Selasa, 17 September 2013

cerpen pertamaku dulu, 3 tahun yang lalu


Hidup Bersahabat
Saya seorang siswa kelas IX bernama Riris yang sudah lama bersahabat dengan Rima seorang siswa kelas VIII. Saya sudah lama bersahabat dengannya selama 5 tahun dan kami tinggal disatu RT. Pertemuan kami berawal dari pindahnya saya sekeluarga kerumah baru yang hanya berbeda RT dengan sebelumnya. Saya pindah pada tanggal 5 Agustus 2006 saat masih kelas IV SD.
Pertama kali tinggal disini saya merasa malu dan sungkan dengan teman-teman. Sebelum tinggal di sini saya sudah pernah diajak kenalan sama 2 orang teman.
“ Mbak, namamu siapa ? “ Tanya seorang teman
“ Aku Riris, lha kamu ? “ jawabku bertanya
“ Aku Dhania dan ini Yani. ” jawabnya kembali
Kami pun berteman. Selain itu saya juga sudah kenal dengan seorang teman bernama Raina yang dulu teman saat saya TK. Sejak saat itu saya sudah mengenal sebagian dari teman-teman di sini.
 Saat hari pertama di sini sedang ada lomba untuk menyambut hari Kemerdekaan. Saya pun turut diajak untuk mengikutinya. Teman-teman juga banyak yang menyoraki dan memberi dukungan kepada saya. Saya senang karena sudah memiliki banyak teman di sini. Hari-hari saya berjalan diselimuti keceriaan bersama semua teman. Hingga suatu saat terjadi konflik antara saya dengan Rima yang berpengaruh terhadap persahabatan kami.
“ Mbak, maen yuk ! “ ajak Rima
“ Ok, maen apa, Rim ?” jawabku
“ Maen bulu tangkis aja.” Kata Tami
Kami pun bermain bulu tangkis tetapi, sebelum bermain kami hompimpa dahulu. Ternyata saya dan Tami yang menang. Jadi seharusnya yang main saya dan Tami dahulu. Namun Rima malah marah dan musuhin saya. Dia menuduh saya mainnya curang dan sudah membohonginya. Padahal saya tidak berbuat curang atau membohonginya.
Kami musuhan selama lebih dari tiga hari dan setelah itu adik saya mengadu pada Ibu tentang permusuhan saya dengan Rima. Ibu langsung menemui Rima dan menyatukan kami tetapi, Rima malah bilang ke Ibu kalau yang mulai duluan itu saya.
“ Mbak Riris dulu yang mulai, Bu ! “ adu Rima
“ Bukan, tetapi Rima dulu !” sahutku
“ Sudah nggak apa-apa sekarang maafan ya,nggak boleh musuhan lagi.”  kata Ibu.
Padahal sudah jelas kalau yang mulai duluan itu Rima bukan saya. Akhirnya kami pun maafan dan kembali berteman. Dari tahun ke tahun hal seperti itu sering sekali terjadi dalam persahabatan kami. Setiap tahun atau beberapa bulannya pasti selalu ada saja teman yang dimusuhi sama Rima. Hal seperti itu menjadi sudah biasa dalam persahabatan kami. Walaupun demikian kami masih tetap saling menyayangi.
Saat saya sudah kelas VI SD pernah suatu ketika saya mendapat surat cinta dari orang yang pernah saya suka. Saya pun tidak percaya kalau surat itu dari dia. Saya bertanya kepada sahabat-sahabat dan mereka bilang itu memang benar dari dia. Walaupun semua berkata seperti itu saya tetap tidak percaya. Karena selama ini perasaan saya tidak pernah salah mengira tentang apa yang terjadi. Terkadang terlintas dalam pikiran saya tentang mengarahnya perasaan saya pada kebohongan yang mungkin terjadi. Dalam hati berkata bahwa semua kebohongan pasti suatu saat akan terungkap. Biarlah semua itu menjadi rencana Allah SWT.
Ada saat-saat di mana saya harus menjaga kekompakan dengan teman-teman. Saya sangat senang dengan kekompakan semua teman di sini walaupun ada beberapa yang tidak. Apalagi saat bulan Ramadhan yang kami manfaatkan untuk menjaga kebersamaan serta kekompakan.
Kami semua termasuk yang teman laki-laki tidur di Balai Pertemuan RT. Sebelum tidur kami pasti bermain terlebih dulu hingga mengantuk. Ada yang lempar-lemparan bantal, nyanyi bersama, memfoto-foto teman yang sudah tidur dll. Kalau ada yang sudah bangun, kami pasti saling membangunkan teman yang lain. Kami bangun langsung pulang untuk sahur. Sehabis sahur kami kumpul lagi untuk bermain, jalan-jalan, atau tidur lagi.
Setelah bulan Ramadhan dua bulan berlalu, saya dan teman-teman cewek yang lain mengikuti sanggar tari. Kami latihan menari di Lapangan RT hampir setiap harridan tarian kami juga sering dipentaskan. Pentas pertama kami di Lawang Sewu untuk memperingati hari ulang tahun kota Semarang. Kami pentas pada hari Minggu, satu hari sebelum saya mengikuti UASBN. Pentas pertama kami pun sukses.
Esok harinya saya mengikuti UASBN. UASBN hari pertama hingga ketiga pun berjalan lancardan saya bias mengerjakan semua mata pelajaran dengan jujur. Karena saya yakin bahwa kejujuran merupakan kunci mencapai kesuksesan.
Beberapa minggu kemudian hasil UASBN diumumkan. Alhamdulillah saya lulus dengan nilai yang lumayan. Guru saya saat di Kelas Menyebutkan semua nilai.
“ Riris, Bahasa Indonesia 8.40 ; Matematika 9.25 ; IPA 8.75. jumlahnya 26.40.” sebut Guruku
“ Alhamdulillah, beneran tu Lin ?” tanyaku ke Sahabat
“ Benar itu Ris, kamu hebat. Aku aja cuma 24.45.” jawab Lina
“ Lina, nilai berapa aja itu harus kita syukuri.” Kataku
“ Iya Ris, Alhamdulillah.” Sahut Lina
Lina itu seorang sahabatku saat di Kelas VI SD. Sesuatu apa saja kami selalu jalani bersama-sama dengan canda tawa, tanpa beban. Saya bersahabat dengan Lina tidak pernah marahan ataupun musuhan karena kami tahu itu tidak baik. Kami saling menjaga hati. Kami tidak pernah main rahasia-rahasiaan dan selalu terbuka satu sama lain. Jika ada masalah kami selalu jujur dan menyelesaikan masalah itu bersama.
Liburan kenaikan kelas pun tiba. Saya dengan teman-teman nari melanjutkan pentas yang kedua di Taman Budaya Raden Saleh atau yang sering disingkat TBRS. Pentas kami berlangsung pada malam hari. Alhamdulillah pentas kami yang kedua berjalan lancar. Selain itu liburan ini saya gunakan untuk mendaftar sekolah.
Saat sudah ada pendaftaran, saya mendaftar ke SMP 9 sebagai pilihan pertama dan SMP 15 sebagai pilihan kedua. Setelah melewati beberapa proses yang rumit, akhirnya saya dapat diterima di SMP 9. Setelah itu saya melanjutkan pentas tari yang ketiga.
Pentas ketiga kami di Pasadena. Sewaktu satu hari sebelum saya masuk sekolah pertama kali di SMP 9. Itu pun juga berjalan lancar. Pentas yang ketiga menjadi pentas terakhir kami. Karena setelah itu kami tidak mengikuti sanggar tari lagi. Kemungkinan ada suatu hal yang tidak kami ketahui tetapi, kami tidak memikirkan itu.
Saat di kelas VII saya sangat senang karena mempunyai banyak teman dan sahabat baru. Hari-hari saya di Kelas VII diselimuti kebahagiaan karena semua teman yang sangat baik dan kompak. Tidak terasa saat-saat di Kelas VII sudah terlewat. Banyak sekali penyesalan yang terjadi saat saya di kelas VII. Karena kelasnya di acak kembali jadi banyak yang tidak satu kelas lagi.
Saat liburan kenaikan kelas saya dan semua teman satu RT pergi tamasya ke Siwarak. Disana kami berenang disela-sela canda tawa. Laki perempuan saling bersenda gurau untuk menambah semangat saat bermain di kolam renang. Peristiwa liburan seperti itu sering sekali terjadi tiap liburan sekolah. Walaupun terkadang tempatnya tidak selalu sama.
Saya naik kelas VIII dan Rima lulus SD. Kebetulan Rima mendaftar dan dapat diterima di SMP 9. Saya dan Rima pun sekolah di tempat yang sama. Kami menjadi kakak dan adik kelas karena saya kelas VIII dan Rima kelas VII. Di sini lah puncak persahabatan kami. Persahabatan kami menjadi lebih erat dari yang sebelumnya. Karena kami kalau pulang bersama dan selain itu kami jadi lebih sering melakukan segala sesuatu bersama. Jika sedang di jalan, kami sering sekali cerita-cerita sesuatu yang menarik ataupun tidak menarik. Kami pun juga senang saling curhat-curhatan. Terkadang yang curhat Rima dan kadang saya. Sesuatu yang kami curhatkan sering kali sebuah rahasia besar yang harus dijaga dan tidak boleh ada seorang pun yang mengetahuinya.
Saat saya kelas VIII ini tidak seperti yang dulu. Dahulu sering sekali kalau saya curhat sama Rima esok harinya atau selang beberapa hari pasti curhatan saya terbongkar. Namun, saat saya kelas VIII kami saling menutup dan menjaga rahasia-rahasia itu.
Sering kali saya curhat ke Rima tentang orang yang saya suka, tidak suka dan semua yang merupakan suatu rahasia. Rima sering sekali curhat tentang orang yang dia suka, sahabatnya, dll. Kami menjaga semua rahasia itu dengan baik.
Di kelas VIII saya pun juga mempunyai banyak sahabat namanya Lidia, Inaya, Lista, Aulia, Nani. Mereka adalah sahabat yang sangat baik dan care sama saya. Saat di kelas kami sering cerita-cerita juga curhat-curhatan. Sering sekali kalau ada tugas atau PR kami selalu berdiskusi bersama. Saat study tour kami juga memilih untuk menjadi satu kelompok. Kami tidak pernah saling membohongi satu sama lain dan selalu terusterang jika ada masalah.
Pernah suatu ketika saya marahan dengan Lista atau Lidia tetapi, itu tidak bias bertahan lama. Pasti kami tiba-tiba main bareng atau bersenda gurau bersama lagi. Apalagi saya dengan Lista. Kami kalau sedang cerita-cerita pasti terlalu asyik dan sering sekali tentang orang yang kami suka. Saya dan sahabat-sahabat selalu saling bersaing untuk memperebutkan ranking di kelas. Kami biasanya mendapatkan ranking sepuluh besar. Biasanya yang salib-menyalib ranking itu saya dengan Nani, Lidia dengan Inaya. Walaupun saling bersaing, kami tidak pernah saling pelit ilmu dan ika ada teman yang kurang bisa pasti saling membantu. Sering kali kami selalu saling mencocokkan sesuatu yang dikerjakan. Saya sangat senang tetapi, semuanya tidak terasa kami pun berpisah. Kenaikan kelas pun tiba dan saat kelas IX nya kami beda kelas kecuali saya, Lidia, dan Inaya.Karena kelas kami kembali seperti saat kelas VII.
Saat saya sudah kelas IX dan Rima kelas VIII persahabatan kami melemah. Saat itu kami jadi sering tidak bersama karena Rima berubah. Banyak sekali perubahan pada dirinya. Sering sekali dia nyuekin dan tidak ngajak main saya lagi. Kami pun hampir seperti orang yang sedang marahan padahal tidak. Perasaan saya mengatakan bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Rima. Pernah suatu ketika Hendri temannya orang yang pernah saya suka bilang ke saya.
“ Eh Ris, kamu suka sama Nando kan ?” kata Hendri
“ Ih, PD mu tu lho.” Jawabku
“ Iya yo, ada buktinya lho!” seru Hendri
“ gak yo, sekarang buktinya apa ?” tanyaku
“ Yang penting ada.” Jawab Hendri
Begitulah yang dibicarakan Hendri kepada saya. Perasaan saya mengatakan bahwa ada yang sudah memberitahukan tentang itu ke Hendri dan itu kemungkinan Rima. Esok harinya saya mengirim sms ke Hendri menanyakan tentang buktinya tetapi, sms tidak dia balas. Saat saya pulang sekolah bersama dengan Rima. Saya menceritakan kepadanya kalau Hendri berkata seperti itu ke saya dan saya juga sudah sms Hendri. Rima pun langsung salah tingkah dan dia seperti kebingungan mau menjawab apa. Dugaan saya semakin kuat bahwa itu semua perbuatan Rima.
Saya mencari tahu tentang semua yang sedang terjadi. Sore harinya saat sedang ada tadarusan di Mushola, saya mendengar Rima bicara sesuatu ke Hendri. Ternyata yang mereka bicarakan adalah Rima menyuruh Hendri untuk tidak memberi tahu saya kalau itu semua perbuatan Rima. Akhirnya sudah terbukti bahwa yang selama ini sering membongkar-bongkar rahasia saya ternyata Rima. Selain itu dia juga yang membohongi saya tentang surat cinta tiga tahun lalu. Surat cinta itu yang merekayasa adalah Rima dan Yani. Semua dugaan perasaan saya itu sudah terungkap dan benar adanya. Sejak saat itu saya kembali musuhan dengan Rima karena dia yang memulai.
Di Rumah saya sering sekali mendengar tentang ejekan mereka di depan rumah saya. Perasaan saya pun kembali mengatakan bahwa ejekan mereka itu untuk saya. Saya pun bertanya pada Dhania tentang ejekan itu.
“ Eh, yang sering dikatakan Rima di depan rumahku ndak buat aku ? “ tanyaku heran
“ Bukan kok mbak.” Jawab Dhania
“ Tapi kok kalian kalau ngomong itu di depan Rumahku!” kataku
“ Bukan kok mbak, bukan keluargamu.” Kata Dhania mengelak
“ o ya udah makasih.” Ucapku
Beberapa hari kemudian teman adikku bilang ke saya kalau Rima dan teman yang lain mengejek saya. Jadi ternyata benar bahwa ejekan mereka itu untuk saya. Esoknya Rima sms saya yang isinya tentang yang salah menurut dia adalah saya saya. Sms Rima itu menurut saya sangat kurangajar. Karena dia sudah terbukti salah malah menjelek-jelekkan, mengata-ngatakan saya. Dalam smsnya dia juga mengatakan bahwa saya tidak punya harga diri. Dia juga mengatakan bahw saya itu over karena menurutnya semua yang ada didiriku itu aneh. Selain itu banyak lagi yang dia katakana tetapi, menurut saya ya sudahlah tidak apa-apa. Kalau memang itu sudah menjadi keputusannya biarlah dia sadar dengan sendirinya. Saya berharap semua yang sudah terjadi tidak terulang lagi. Semua itu saya ambil hikmahnya saja. Walaupun demikian tetaplah sebuah kebohongan itu salah. Semua kebohongan pasti akan terungkap bila sudah datang waktunya.

 

                                                THE END

2 komentar: