Selasa, 11 Desember 2018

SAKIT :)

Udah lamaa ya ternyata aku ga bikin tulisan. Banyak sebenernya yang pengen aku tulis tentang semua yg pernah aku jalani. 
Entah kenapa kali ini aku pengen nulis sesuatu karena mungkin aku bingung dan gatau harus cerita kesiapa lagi. Selama ini aku lama ga bikin tulisan karena ada aja tempat buat aku mencurahkan semua yg lagi aku rasain, tapi kali ini berbeda. 
Aku lagi ada dititik dimana aku lelah untuk menjalin sebuah hubungan. Yaa, sudah setahun lebih aku menjalin hubungan pacaran sama seseorang. Aku pernah merasa beruntung bisa sangat dicintai oleh orang tersebut hingga akhirnya aku benar-benar telah menjatuhkan hatiku padanya. Kami telah merasakan lika-liku, manis pahitnya sebuah hubungan dan masih bisa bertahan sampai sekarang.
Hanya saja sekarang aku mulai merasakan kalau ada yg berbeda. Iyaa hubungan itu kini terasa sangat hambar. Dulu aku sangat mempercayai sebuah teori tentang cowok mencintai dari 100 ke 0 sedangkan cewek mencintai dari 0 ke 100 dan saat itu seseorang yang sangat mencintaiku meyakinkanku bahwa teori itu gaakan pernah berlaku pada hubungan kita. Namun pada kenyataannya sekarang aku justru terpaksa untuk mengakui bahwa teori itu benar adanya dan terjadi pada hubungan kita sekarang. Cowok manapun ketika ditanya tentang perubahan perasaannya sekarang pasti selalu mengelak termasuk dia. Aku paham karena memang hal tersebut hanya akan dirasakan oleh seorang cewek. Kenapa semua cowok selalu berjuang diawalnya saja? dan dalam sebuah hubungan, ceweklah yang berusaha mengalah untuk mempertahankan. 
Sekarang aku benar-benar tidak tau jalan apa yang akan aku pilih. Tidak mudah untuk melepaskan bahkan untuk mengatakan sebuah kata break saja aku tak akan sanggup. Selama ini aku selalu berusaha memaklumi dan memaafkan semua kesalahan yang dia lakukan. Tapi sekarang seolah aku sudah lelah setelah mengetahui beberapa kebohongan yang dia sembunyikan. Bahkan dia tidak tahu kalau sebenarnya aku mengetahui semua kenyataan yang telah dia sembunyikan. Seolah aku menyesal karena selalu membelanya di depan teman-teman cowokku kalau dia tidak akan pernah mengecewakanku hingga membohongiku. Ternyata benar kalau semua cowok itu sama aja.

Terimakasih telah membuat hatiku lega :)

Senin, 19 Mei 2014

Banyak banget yang pengen aku tulis disini, tapi sayangnya aku lagi sibukk banget. Kapan-kapan aja dehh..

Sabtu, 25 Januari 2014

Perasaanku Kini

Tuhan, aku hancur hari ini. Perasaanku kacau balau dari kemarin, ditambah lagi semua masalah yang datang tadi pagi. Belum usai semuanya, sekarang aku semakin hancur mendengar pengakuan dari seseorang, orang yang aku sayang selama ini. aku gak tau harus gimana dan harus ngapain. Yang pasti aku ngrasa sakitt bangett. Aku sayang banget sama dia, tapi apa?. Dia udah lama suka sama orang lain dan sampe sekarang dia masih berstatus pacaran sama orang yang lain jugak daaannn aku baru tau itu. Selama ini yang aku tau aku sayang sama dia dan dia juga sayang sama aku...
Aku bingung sama semuanya. Aku gak tau harus gimana lagi. Aku tetep mencoba menjadi pendengar yang baik dari semua masalah-masalahnya yang di ceritain ke aku. 
Aku pengen dia tau kalo aku ngrasain sakit sama seperti apa yang dia rasain selama ini. Okee aku akan tetep pada pendirianku dulu.. 
Kita itu Sahabatan. Kamu sahabatku, dan aku ini sahabatmu. Sahabat itu lebih dari segalanya, sahabat lebih berarti dan berharga dari sekorang kekasih..

Jumat, 13 Desember 2013

hay aku teringat sesuatu nihh...
aku sebel banget dehh sama yang namanya UAS. ih, bingung deh, kenapa dari dulu, dari zaan bahulaa, nilai UAS itu menghancurkan nilai nilai ku sebelumnya. nilai-nilai yang selama ini aku dapetin dan perjuangin mungkin lenyap begitu saja cuman gara-gara UAS. huft, sebelnya minta ampun deh. harusnya tuh yaa, nilai UAS bisa ngangkat nila yang sebelumnya dong, bukannya malah menjatuhh kannn... duuuhhh, gimana kalo UAS nya ditiadakan ajalahhh, huftt..
huft, aku sih berharapnya ini semua mimpi ajalah.
kalian tau guys, aku itu senenernya sayang banget sama dia. tapi gimana lagi dong itu semua juga percuma, mungkin memang sih dia juga sayang sama aku. tapi ?? sebagai apa yaa??
aku bingung deh, aku harus gimana sihh ini, aku butuh kepastian dong. selama ini dia anggepnya itu aku siapanya yaa?? aku cuman takut aja kalo seiring berjalannya waktu, ntar lama-lama dia udah gak sayang lagi deh sama aku... yah, intinya aku takut guys, kalo sampe kehilangan dia. aku gak mau banget jauh dari dia, aku pengennya sih tetep kaya dulu, yaaa tetep sperti biasa. semoga yaaa.. amiiinnn..
hy guys, memang yaa kehidupan itu bener-bener gak ada yang sempurna. hm, hidup ini banyak banget liku-likunya. tapi tau gak sih ?? ternyata liku-liku itulah yang bikin hari-hari kita semakin indah lhooo. coba aja deh bayangin, kalo seumpama hidup kita mulus-mulus aja. duuuhhh, pasti ngebosenin banget tuhh..
makanya jangan pernah ngerasa berat lho ngejalain itu semua,  gimana kalo di bikin have fun aja. pasti seru dehh, yakin.. byeee...

Minggu, 22 September 2013

Cerpen kedua ku dulu, seperti cerpen pertamaku.. *mbuatnya



KESEMPATAN TERAKHIR
Siang itu memang sedang sangat panas. Rami masih terus berjalan mencari lowongan pekerjaan untuk menghidupi ketiga adiknya. Dia anak pertama dari empat bersaudara sedangkan kedua orang tuanya sudah tiada. Rami harus bekerja membanting tulang untuk mencari uang. Kehidupannya sangat sederhana. Rami dan adik-adiknya tinggal di tempat yang sangat kumuh. Tempat penyimpanan barang-barang rongsokan.
Saat di jalan, dia sudah hampir putus asa karena dia takut kalau hari ini adik-adiknya tidak bisa makan. Dia melihat seorang pencopet yang sedang menjambret seorang ibu yang kaya raya membawa tas yang sangat menarik. Mungkin semenarik isi tas itu. Dia juga melihat penjambret itu keluar dari sebuah rumah makan dengan membawa banyak makanan. Rami pun berpikir mungkin itu adalah sebuah jalan untuknya.
Saat dia akan masuk kesebuah perusahaan, dia melihat seorang ibu keluar dari perusahaan dengan membawa tas yang menarik. Tidak berpikir panjang lagi Rami pun langsung mengambil tas ibu itu lalu lari dengan sekuat tenaga. Ibu itu berteriak minta tolong karena tasnya dijambret. Rami pun dikejar oleh banyak orang yang mungkin ingin menghajarnya. Dia akhirnya bisa lolos dari maut. Rami lalu membuka tas ibu itu dan langsung pergi ke Warung makan untuk membelikan adik-adiknya makanan. Walaupun dengan menyesal Rami memberikan bungkusan makanan itu ke adik-adiknya. Delima adik Rami yang pertama bertanya.
“ Kak, kakak dapat makanan ini dari mana? Apakah kakak sudah dapat pekerjaan? “ Tanya delima
“ emm…..sudah ma. Alhamdulillah kakak sudah dapat pekerjaan yang lumayan.” Jawab Rami berbohong
“ ya sudah deh kak, Alhamdulillah.” Ucap delima
Rami berbohong karena dia tidak mau Delima tahu semua itu. Rima mulai berpikir bahwa Tuhan sudah tidak sayang lagi kepadanya. Menurutnya mencopet memang bukan hal yang baik, tetapi itu tadi dia lakukan dengan terpaksa. Rami pun bertekat untuk melanjutkan pekerjaan yang tadi dia lakukan.
Setiap hari Rami pergi bekerja menggunakan pakaian yang sopan agar Delima tidak curiga. Dia selalu menuju ke tempat yang kira-kira ramai dan terdapat banyak orang yang kaya. Semuanya Rami lakukan dengan baik dan tidak pernah ketangkap oleh orang-orang yang mengejarnya.
Hampir setiap hari Rami pulang ke rumah dengan membawa barang belanjaan untuk adik-adiknya. Sering sekali Rami juga mengajak adik-adiknya berlibur ke tempat yang mahal. Rami pun juga membeli rumah baru yang lebih layak huni.
“ Kak, kakak jujur deh sama Delima. Kenapa Kakak setiap hari membawa uang banyak padahal setahu aku gaji itu dibayar perbulan bukan setiap hari.” Tanya Delima dengan serius
“ emm itu,aaannnu.” Jawab Rami dengan gugup
“ jawab dong kak! Kk malah gugup sih.” Sahut Delima
“ Ma, emang pekerjaan kakak kayak gitu. Dapat gajinya setiap hari dan memang tempatnya juga besar. Jadi di situ sebuah perusahaan yang sukses dan dapat menggaji semua karyawan setiap hari dan banyak pula.” Jawab Rami meyakinkan
Rami pun selalu berbohong kepada adiknya. Semakin hari Delima semakin curiga dengan pekerjaan kakaknya. Hingga suatu saat Delima cerita ke kakaknya kalau Ibu temannya dijambret.
“ Kak, kemarin Ibunya Lani dijambret lho.” Cerita Delima
“ Kok bisa?” ucap Rami
“ iya kak, saat ibunya Lani sedang nunggu jemputan tiba-tiba kopernya yang berisi uang jutaan direbut orang. Orang itu sudah dikejar tetapi tidak ketangkap.” kata Delima
“ berarti itu yang kemarin aku jambret ( pikirnya dalam hati ). Terus ibu itu gimana?” Tanya Rami
“ Ya melapor ke kantor polisi lah kak. Jambretnya kurang ajar banget ya. Gak punya hati tuh jambret ! cari duwit kok kaya gitu kan sama aja itu tidak halal.” Jelas Delima
“ emm, o gitu ya.” Jawab Rami ketakutan
Pembicaraan mereka pun selesai. Di Kamar, Rami pun menangis sedih. Dia sebenarnya menyesal atas semua perbuatannya. Dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Walaupun demikian, Rami tetap tidak berhenti dari pekerjaannya karena pekerjaan itu satu-satunya cara untuk menghidupi adik-adiknya.
Sering sekali Delima melihat kakaknya pulang dengan keringat yang bercucuran seperti orang habis dikejar-kejar setan. Kecurigaan Delima semakin memuncak. Dia pun memutuskan untuk mengikuti kakaknya saat bekerja agar semua kecurigaan itu menghilang.
Dia melihat kakaknya didekat sebuah Mall yang besar dan sedang berdiri melihat-lihat orang yang akan masuk ke Mall itu. Setelah itu Delima pun kaget melihat kakaknya berlari sambil merebut sebuah tas milik seorang ibu. Kakaknya pun dikejar-kejar oleh banyak orang termasuk satpam Mall itu. Delima langsung ikut mengejar kakaknya dan lagi-lagi lolos. Dia tidak percaya semua yang dilihatnya tadi.
Di Rumah Delima pun menangis. Rami pulang ke Rumah dan langsung mendatangi adiknya yang sedang menangis itu.
“ Kamu kenapa, ma?” Tanya Rami
“ Gak ada apa-apa kok kak. Delima cuma lagi sedih aja.” Jawab Delima
“ Sedih kenapa sayang, cerita dong sama kakak. Gak biasanya kamu nangis.” Bujuk Rami
“ Kak, kakak jujur deh sama Delima. Kenapa pekerjaan kakak seperti itu? Itu gak baik kak!” kata Delima
“ Maksud kamu apa? Pekerjaan kakak kan baik.” Rami mengelak
“ Udah deh kak, gak usah bohong lagi. Aku udah tahu semua. Sebenarnya pekerjaan kakak adalah jadi pencopet jadi selama ini uang yang kakak bawa pulang dan untuk menghidupi kami semua itu tidak halal kan?” Delima menjelaskan
“emm, eh iiiiiya. Kamu tahu dari mana?” jawab Rami
“ Itu gak penting. Yang penting sekarang kakak harus berhenti dari pekerjaan kakak itu.” Pinta Delima
“ Tetapi, itu gak mungkin. Kalau kakak berhenti mencopet kita makan pakek apa?” Rami menolak
“ Kalau kakak gak mau ya udah. Mulai sekarang aku dan adik-adik gak mau makan hasil copetan kakak.” Delima memutuskan
Rami pun mulai berpikir dua kali untuk memutuskan apa yang harus dia lakukan. Delima sangat marah padanya. Dia meminta maaf pada Delima tetapi tidak dimaafkan. Delima akan memaafkannya setelah Rami mau berhenti dari pekerjaannya itu.
Walaupun demikian Rami tetap saja tidak mau berhenti dari pekerjaannya. Dia tidak mau menuruti kata-kata adiknya karena dia beranggapan bahwa itu adalah satu-satunya jalan untuk menghidupi adik-adiknya. Dia masih sering mencopet orang-orang yang dia pikir kaya.
Saat Rami menjambret seseorang, dia mungkin sedang kurang konsentarasi. Dia pun yang biasanya tidak tertangkap saat dikejar, akhirnya tertangkap juga. Rami dikeroyok banyak orang dan dia pun dimasukkan ke dalam penjara. Dia menyesal atas semua perbuatannya tetapi dia sadar bahwa ini adalah hukuman untuknya. Delima juga mengunjunginya dan ini adalah kesempatan yang baik untuk meminta maaf kepada Delima.
 “ Ma, maafkan kakak ya…… sudah tidak menuruti semua kata-katamu kemarin. Kakak menyesal sekli atas perbuatan kakak sebelumnya.” Rami meminta maaf
“ Kak, sebenarnya Delima udah maafin kakak kok. Delima seneng kakak udah sadar.” Ucap Delima
“ Makasih banget ya, Ma!” kata Rami
“ Sama-sama kak. Delima akan kasi kakak satu kesempatan lagi. Kakak harus tunjukin keaku kalau kakak beneran udah berubah.”  kata Delima
“ oke-oke siip. Kakak gak akan ngecewain Delima lagi.” Jawab Rami
Tiga bulan pun berlalu. Rami pun sudah bisa keluar dari penjara. Rami banyak mendapatkan pembelajaran yang berharga di dalam penjara. Banyak sesuatu yang dapat membuat dia sadar akan semua kesalahannya.
Rami pun juga berusaha menunjukan kalau dia sudah berubah. Dia mulai mencari pekerjan yang baru dengan didampingi Delima sambil menemukan orang yang pernah dijambret untuk meminta maaf. Walaupun semua itu dia lakukan dengan susah payah.
Akhirnya Rami sudah mendapat pekerjaan yang mungkin bisa untuk menghidupi adik-adiknya. Rami juga sudah meminta maaf kepada orang-orang yang pernah dia jambret. Delima sangat bahagia karena kakaknya sudah bisa membuktikan kalau dia memang sudah berubah.
Hingga suatu saat Rami pulang kerja dia mendapat sebuah rintangan. Saat dia menemukan seorang yang pernah dijambret dan berniat untuk meminta maaf. Rami pun mengejar orang itu dengan sepenuh tenaga seperti saat dia sedang menjambret. Tanpa melihat kanan kiri saat menyebrang, Rami pun tertabrak mobil yang sedang melintas.
Orang yang melihat kejadian itu langsung membawanya ke Rumah Sakit terdekat. Orang itu juga sudah mengabari Delima menggunakan HP milik Rami yang terdapat kontak bernama adik. Delima pun sangat soock mendengar berita itu dan langsung bergegas pergi ke Rumah Sakit itu. Di Rumah Sakit Delima langsung menemui kakaknya karena kakaknya sedang ingin bicara kepadanya.
“ Ma, kkaakak bisa minta tolong kekamu gak?” Tanya Rami
“ Minta tolong apa kak?” kata Delima sambil menangis
“ Tolong kamu cari orang yang benama Ibu Lidia dan mintakan maaf kepadanya ya...” pinta Rami
“ iya kak.” Jawab Delima
“ Tolong jaga adik-adik mu ya……jika kakak sudaaahhh gggaak ada.” Kata terakhir Rami sebelum menghembuskan napas terakhir
“ iya kak, kkkaaakkkkk……jangan tinggalin aku….kakak bangun dong….” Kata Delima sambil menangis.
Rami pun pergi untuk selamanya. Delima akhirnya dapat merelakan kepergian kakaknya. Dia juga sudah berhasil menemukan ibu Lidia. Dia yakin kakaknya akan hidup senang di sana.
“ Biarlah itu semua menjadi takdirnya Kak Rami. Untungnya  Kak Rami mempunyai kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Walaupun itu menjadi kesempatan terakhir.” Kata Delima dalam hati
Delima pun hidup bahagia bersama kedua adiknya.

OLEH: RIZKA PUSPITASARI
š SELESAI