KESEMPATAN
TERAKHIR
Siang itu memang sedang sangat panas. Rami masih terus
berjalan mencari lowongan pekerjaan untuk menghidupi ketiga adiknya. Dia anak
pertama dari empat bersaudara sedangkan kedua orang tuanya sudah tiada. Rami
harus bekerja membanting tulang untuk mencari uang. Kehidupannya sangat
sederhana. Rami dan adik-adiknya tinggal di tempat yang sangat kumuh. Tempat
penyimpanan barang-barang rongsokan.
Saat di jalan, dia sudah hampir putus asa karena dia
takut kalau hari ini adik-adiknya tidak bisa makan. Dia melihat seorang
pencopet yang sedang menjambret seorang ibu yang kaya raya membawa tas yang
sangat menarik. Mungkin semenarik isi tas itu. Dia juga melihat penjambret itu
keluar dari sebuah rumah makan dengan membawa banyak makanan. Rami pun berpikir
mungkin itu adalah sebuah jalan untuknya.
Saat dia akan masuk kesebuah perusahaan, dia melihat
seorang ibu keluar dari perusahaan dengan membawa tas yang menarik. Tidak
berpikir panjang lagi Rami pun langsung mengambil tas ibu itu lalu lari dengan
sekuat tenaga. Ibu itu berteriak minta tolong karena tasnya dijambret. Rami pun
dikejar oleh banyak orang yang mungkin ingin menghajarnya. Dia akhirnya bisa
lolos dari maut. Rami lalu membuka tas ibu itu dan langsung pergi ke Warung
makan untuk membelikan adik-adiknya makanan. Walaupun dengan menyesal Rami
memberikan bungkusan makanan itu ke adik-adiknya. Delima adik Rami yang pertama
bertanya.
“ Kak, kakak dapat makanan ini dari mana? Apakah kakak
sudah dapat pekerjaan? “ Tanya delima
“ emm…..sudah ma. Alhamdulillah kakak sudah dapat
pekerjaan yang lumayan.” Jawab Rami berbohong
“ ya sudah deh kak, Alhamdulillah.” Ucap delima
Rami berbohong karena dia tidak mau Delima tahu semua
itu. Rima mulai berpikir bahwa Tuhan sudah tidak sayang lagi kepadanya. Menurutnya
mencopet memang bukan hal yang baik, tetapi itu tadi dia lakukan dengan
terpaksa. Rami pun bertekat untuk melanjutkan pekerjaan yang tadi dia lakukan.
Setiap hari Rami pergi bekerja menggunakan pakaian yang
sopan agar Delima tidak curiga. Dia selalu menuju ke tempat yang kira-kira
ramai dan terdapat banyak orang yang kaya. Semuanya Rami lakukan dengan baik
dan tidak pernah ketangkap oleh orang-orang yang mengejarnya.
Hampir setiap hari Rami pulang ke rumah dengan membawa
barang belanjaan untuk adik-adiknya. Sering sekali Rami juga mengajak
adik-adiknya berlibur ke tempat yang mahal. Rami pun juga membeli rumah baru
yang lebih layak huni.
“ Kak, kakak jujur deh sama Delima. Kenapa Kakak setiap
hari membawa uang banyak padahal setahu aku gaji itu dibayar perbulan bukan
setiap hari.” Tanya Delima dengan serius
“ emm itu,aaannnu.” Jawab Rami dengan gugup
“ jawab dong kak! Kk malah gugup sih.” Sahut Delima
“ Ma, emang pekerjaan kakak kayak gitu. Dapat gajinya
setiap hari dan memang tempatnya juga besar. Jadi di situ sebuah perusahaan
yang sukses dan dapat menggaji semua karyawan setiap hari dan banyak pula.”
Jawab Rami meyakinkan
Rami pun selalu berbohong kepada adiknya. Semakin hari
Delima semakin curiga dengan pekerjaan kakaknya. Hingga suatu saat Delima cerita
ke kakaknya kalau Ibu temannya dijambret.
“ Kak, kemarin Ibunya Lani dijambret lho.” Cerita Delima
“ Kok bisa?” ucap Rami
“ iya kak, saat ibunya Lani sedang nunggu jemputan
tiba-tiba kopernya yang berisi uang jutaan direbut orang. Orang itu sudah
dikejar tetapi tidak ketangkap.” kata Delima
“ berarti itu yang kemarin aku jambret ( pikirnya dalam
hati ). Terus ibu itu gimana?” Tanya Rami
“ Ya melapor ke kantor polisi lah kak. Jambretnya kurang
ajar banget ya. Gak punya hati tuh jambret ! cari duwit kok kaya gitu kan sama
aja itu tidak halal.” Jelas Delima
“ emm, o gitu ya.” Jawab Rami ketakutan
Pembicaraan mereka pun selesai. Di Kamar, Rami pun
menangis sedih. Dia sebenarnya menyesal atas semua perbuatannya. Dia bingung
apa yang harus dia lakukan sekarang. Walaupun demikian, Rami tetap tidak
berhenti dari pekerjaannya karena pekerjaan itu satu-satunya cara untuk
menghidupi adik-adiknya.
Sering sekali Delima melihat kakaknya pulang dengan
keringat yang bercucuran seperti orang habis dikejar-kejar setan. Kecurigaan
Delima semakin memuncak. Dia pun memutuskan untuk mengikuti kakaknya saat
bekerja agar semua kecurigaan itu menghilang.
Dia melihat kakaknya didekat sebuah Mall yang besar dan
sedang berdiri melihat-lihat orang yang akan masuk ke Mall itu. Setelah itu
Delima pun kaget melihat kakaknya berlari sambil merebut sebuah tas milik
seorang ibu. Kakaknya pun dikejar-kejar oleh banyak orang termasuk satpam Mall
itu. Delima langsung ikut mengejar kakaknya dan lagi-lagi lolos. Dia tidak
percaya semua yang dilihatnya tadi.
Di Rumah Delima pun menangis. Rami pulang ke Rumah dan
langsung mendatangi adiknya yang sedang menangis itu.
“ Kamu kenapa, ma?” Tanya Rami
“ Gak ada apa-apa kok kak. Delima cuma lagi sedih aja.”
Jawab Delima
“ Sedih kenapa sayang, cerita dong sama kakak. Gak
biasanya kamu nangis.” Bujuk Rami
“ Kak, kakak jujur deh sama Delima. Kenapa pekerjaan
kakak seperti itu? Itu gak baik kak!” kata Delima
“ Maksud kamu apa? Pekerjaan kakak kan baik.” Rami
mengelak
“ Udah deh kak, gak usah bohong lagi. Aku udah tahu
semua. Sebenarnya pekerjaan kakak adalah jadi pencopet jadi selama ini uang
yang kakak bawa pulang dan untuk menghidupi kami semua itu tidak halal kan?”
Delima menjelaskan
“emm, eh iiiiiya. Kamu tahu dari mana?” jawab Rami
“ Itu gak penting. Yang penting sekarang kakak harus
berhenti dari pekerjaan kakak itu.” Pinta Delima
“ Tetapi, itu gak mungkin. Kalau kakak berhenti mencopet
kita makan pakek apa?” Rami menolak
“ Kalau kakak gak mau ya udah. Mulai sekarang aku dan
adik-adik gak mau makan hasil copetan kakak.” Delima memutuskan
Rami pun mulai berpikir dua kali untuk memutuskan apa
yang harus dia lakukan. Delima sangat marah padanya. Dia meminta maaf pada
Delima tetapi tidak dimaafkan. Delima akan memaafkannya setelah Rami mau
berhenti dari pekerjaannya itu.
Walaupun demikian Rami tetap saja tidak mau berhenti dari
pekerjaannya. Dia tidak mau menuruti kata-kata adiknya karena dia beranggapan
bahwa itu adalah satu-satunya jalan untuk menghidupi adik-adiknya. Dia masih
sering mencopet orang-orang yang dia pikir kaya.
Saat Rami menjambret seseorang, dia mungkin sedang kurang
konsentarasi. Dia pun yang biasanya tidak tertangkap saat dikejar, akhirnya
tertangkap juga. Rami dikeroyok banyak orang dan dia pun dimasukkan ke dalam
penjara. Dia menyesal atas semua perbuatannya tetapi dia sadar bahwa ini adalah
hukuman untuknya. Delima juga mengunjunginya dan ini adalah kesempatan yang
baik untuk meminta maaf kepada Delima.
“ Ma, maafkan
kakak ya…… sudah tidak menuruti semua kata-katamu kemarin. Kakak menyesal sekli
atas perbuatan kakak sebelumnya.” Rami meminta maaf
“ Kak, sebenarnya Delima udah maafin kakak kok. Delima
seneng kakak udah sadar.” Ucap Delima
“ Makasih banget ya, Ma!” kata Rami
“ Sama-sama kak. Delima akan kasi kakak satu kesempatan
lagi. Kakak harus tunjukin keaku kalau kakak beneran udah berubah.” kata Delima
“ oke-oke siip. Kakak gak akan ngecewain Delima lagi.”
Jawab Rami
Tiga bulan pun berlalu. Rami pun sudah bisa keluar dari
penjara. Rami banyak mendapatkan pembelajaran yang berharga di dalam penjara. Banyak
sesuatu yang dapat membuat dia sadar akan semua kesalahannya.
Rami pun juga berusaha menunjukan kalau dia sudah berubah.
Dia mulai mencari pekerjan yang baru dengan didampingi Delima sambil menemukan
orang yang pernah dijambret untuk meminta maaf. Walaupun semua itu dia lakukan
dengan susah payah.
Akhirnya Rami sudah mendapat pekerjaan yang mungkin bisa
untuk menghidupi adik-adiknya. Rami juga sudah meminta maaf kepada orang-orang
yang pernah dia jambret. Delima sangat bahagia karena kakaknya sudah bisa
membuktikan kalau dia memang sudah berubah.
Hingga suatu saat Rami pulang kerja dia mendapat sebuah
rintangan. Saat dia menemukan seorang yang pernah dijambret dan berniat untuk
meminta maaf. Rami pun mengejar orang itu dengan sepenuh tenaga seperti saat
dia sedang menjambret. Tanpa melihat kanan kiri saat menyebrang, Rami pun tertabrak
mobil yang sedang melintas.
Orang yang melihat kejadian itu langsung membawanya ke
Rumah Sakit terdekat. Orang itu juga sudah mengabari Delima menggunakan HP
milik Rami yang terdapat kontak bernama adik. Delima pun sangat soock mendengar
berita itu dan langsung bergegas pergi ke Rumah Sakit itu. Di Rumah Sakit
Delima langsung menemui kakaknya karena kakaknya sedang ingin bicara kepadanya.
“ Ma, kkaakak bisa minta tolong kekamu gak?” Tanya Rami
“ Minta tolong apa kak?” kata Delima sambil menangis
“ Tolong kamu cari orang yang benama Ibu Lidia dan
mintakan maaf kepadanya ya...” pinta Rami
“ iya kak.” Jawab Delima
“ Tolong jaga adik-adik mu ya……jika kakak sudaaahhh
gggaak ada.” Kata terakhir Rami sebelum menghembuskan napas terakhir
“ iya kak, kkkaaakkkkk……jangan tinggalin aku….kakak
bangun dong….” Kata Delima sambil menangis.
Rami pun pergi untuk selamanya. Delima akhirnya dapat
merelakan kepergian kakaknya. Dia juga sudah berhasil menemukan ibu Lidia. Dia
yakin kakaknya akan hidup senang di sana.
“ Biarlah itu semua menjadi takdirnya Kak Rami.
Untungnya Kak Rami mempunyai kesempatan
untuk berubah menjadi lebih baik. Walaupun itu menjadi kesempatan terakhir.”
Kata Delima dalam hati
Delima pun hidup bahagia bersama kedua adiknya.
OLEH: RIZKA PUSPITASARI
SELESAI