hay aku teringat sesuatu nihh...
aku sebel banget dehh sama yang namanya UAS. ih, bingung deh, kenapa dari dulu, dari zaan bahulaa, nilai UAS itu menghancurkan nilai nilai ku sebelumnya. nilai-nilai yang selama ini aku dapetin dan perjuangin mungkin lenyap begitu saja cuman gara-gara UAS. huft, sebelnya minta ampun deh. harusnya tuh yaa, nilai UAS bisa ngangkat nila yang sebelumnya dong, bukannya malah menjatuhh kannn... duuuhhh, gimana kalo UAS nya ditiadakan ajalahhh, huftt..
Jumat, 13 Desember 2013
huft, aku sih berharapnya ini semua mimpi ajalah.
kalian tau guys, aku itu senenernya sayang banget sama dia. tapi gimana lagi dong itu semua juga percuma, mungkin memang sih dia juga sayang sama aku. tapi ?? sebagai apa yaa??
aku bingung deh, aku harus gimana sihh ini, aku butuh kepastian dong. selama ini dia anggepnya itu aku siapanya yaa?? aku cuman takut aja kalo seiring berjalannya waktu, ntar lama-lama dia udah gak sayang lagi deh sama aku... yah, intinya aku takut guys, kalo sampe kehilangan dia. aku gak mau banget jauh dari dia, aku pengennya sih tetep kaya dulu, yaaa tetep sperti biasa. semoga yaaa.. amiiinnn..
kalian tau guys, aku itu senenernya sayang banget sama dia. tapi gimana lagi dong itu semua juga percuma, mungkin memang sih dia juga sayang sama aku. tapi ?? sebagai apa yaa??
aku bingung deh, aku harus gimana sihh ini, aku butuh kepastian dong. selama ini dia anggepnya itu aku siapanya yaa?? aku cuman takut aja kalo seiring berjalannya waktu, ntar lama-lama dia udah gak sayang lagi deh sama aku... yah, intinya aku takut guys, kalo sampe kehilangan dia. aku gak mau banget jauh dari dia, aku pengennya sih tetep kaya dulu, yaaa tetep sperti biasa. semoga yaaa.. amiiinnn..
hy guys, memang yaa kehidupan itu bener-bener gak ada yang sempurna. hm, hidup ini banyak banget liku-likunya. tapi tau gak sih ?? ternyata liku-liku itulah yang bikin hari-hari kita semakin indah lhooo. coba aja deh bayangin, kalo seumpama hidup kita mulus-mulus aja. duuuhhh, pasti ngebosenin banget tuhh..
makanya jangan pernah ngerasa berat lho ngejalain itu semua, gimana kalo di bikin have fun aja. pasti seru dehh, yakin.. byeee...
makanya jangan pernah ngerasa berat lho ngejalain itu semua, gimana kalo di bikin have fun aja. pasti seru dehh, yakin.. byeee...
Minggu, 22 September 2013
Cerpen kedua ku dulu, seperti cerpen pertamaku.. *mbuatnya
KESEMPATAN
TERAKHIR
Siang itu memang sedang sangat panas. Rami masih terus
berjalan mencari lowongan pekerjaan untuk menghidupi ketiga adiknya. Dia anak
pertama dari empat bersaudara sedangkan kedua orang tuanya sudah tiada. Rami
harus bekerja membanting tulang untuk mencari uang. Kehidupannya sangat
sederhana. Rami dan adik-adiknya tinggal di tempat yang sangat kumuh. Tempat
penyimpanan barang-barang rongsokan.
Saat di jalan, dia sudah hampir putus asa karena dia
takut kalau hari ini adik-adiknya tidak bisa makan. Dia melihat seorang
pencopet yang sedang menjambret seorang ibu yang kaya raya membawa tas yang
sangat menarik. Mungkin semenarik isi tas itu. Dia juga melihat penjambret itu
keluar dari sebuah rumah makan dengan membawa banyak makanan. Rami pun berpikir
mungkin itu adalah sebuah jalan untuknya.
Saat dia akan masuk kesebuah perusahaan, dia melihat
seorang ibu keluar dari perusahaan dengan membawa tas yang menarik. Tidak
berpikir panjang lagi Rami pun langsung mengambil tas ibu itu lalu lari dengan
sekuat tenaga. Ibu itu berteriak minta tolong karena tasnya dijambret. Rami pun
dikejar oleh banyak orang yang mungkin ingin menghajarnya. Dia akhirnya bisa
lolos dari maut. Rami lalu membuka tas ibu itu dan langsung pergi ke Warung
makan untuk membelikan adik-adiknya makanan. Walaupun dengan menyesal Rami
memberikan bungkusan makanan itu ke adik-adiknya. Delima adik Rami yang pertama
bertanya.
“ Kak, kakak dapat makanan ini dari mana? Apakah kakak
sudah dapat pekerjaan? “ Tanya delima
“ emm…..sudah ma. Alhamdulillah kakak sudah dapat
pekerjaan yang lumayan.” Jawab Rami berbohong
“ ya sudah deh kak, Alhamdulillah.” Ucap delima
Rami berbohong karena dia tidak mau Delima tahu semua
itu. Rima mulai berpikir bahwa Tuhan sudah tidak sayang lagi kepadanya. Menurutnya
mencopet memang bukan hal yang baik, tetapi itu tadi dia lakukan dengan
terpaksa. Rami pun bertekat untuk melanjutkan pekerjaan yang tadi dia lakukan.
Setiap hari Rami pergi bekerja menggunakan pakaian yang
sopan agar Delima tidak curiga. Dia selalu menuju ke tempat yang kira-kira
ramai dan terdapat banyak orang yang kaya. Semuanya Rami lakukan dengan baik
dan tidak pernah ketangkap oleh orang-orang yang mengejarnya.
Hampir setiap hari Rami pulang ke rumah dengan membawa
barang belanjaan untuk adik-adiknya. Sering sekali Rami juga mengajak
adik-adiknya berlibur ke tempat yang mahal. Rami pun juga membeli rumah baru
yang lebih layak huni.
“ Kak, kakak jujur deh sama Delima. Kenapa Kakak setiap
hari membawa uang banyak padahal setahu aku gaji itu dibayar perbulan bukan
setiap hari.” Tanya Delima dengan serius
“ emm itu,aaannnu.” Jawab Rami dengan gugup
“ jawab dong kak! Kk malah gugup sih.” Sahut Delima
“ Ma, emang pekerjaan kakak kayak gitu. Dapat gajinya
setiap hari dan memang tempatnya juga besar. Jadi di situ sebuah perusahaan
yang sukses dan dapat menggaji semua karyawan setiap hari dan banyak pula.”
Jawab Rami meyakinkan
Rami pun selalu berbohong kepada adiknya. Semakin hari
Delima semakin curiga dengan pekerjaan kakaknya. Hingga suatu saat Delima cerita
ke kakaknya kalau Ibu temannya dijambret.
“ Kak, kemarin Ibunya Lani dijambret lho.” Cerita Delima
“ Kok bisa?” ucap Rami
“ iya kak, saat ibunya Lani sedang nunggu jemputan
tiba-tiba kopernya yang berisi uang jutaan direbut orang. Orang itu sudah
dikejar tetapi tidak ketangkap.” kata Delima
“ berarti itu yang kemarin aku jambret ( pikirnya dalam
hati ). Terus ibu itu gimana?” Tanya Rami
“ Ya melapor ke kantor polisi lah kak. Jambretnya kurang
ajar banget ya. Gak punya hati tuh jambret ! cari duwit kok kaya gitu kan sama
aja itu tidak halal.” Jelas Delima
“ emm, o gitu ya.” Jawab Rami ketakutan
Pembicaraan mereka pun selesai. Di Kamar, Rami pun
menangis sedih. Dia sebenarnya menyesal atas semua perbuatannya. Dia bingung
apa yang harus dia lakukan sekarang. Walaupun demikian, Rami tetap tidak
berhenti dari pekerjaannya karena pekerjaan itu satu-satunya cara untuk
menghidupi adik-adiknya.
Sering sekali Delima melihat kakaknya pulang dengan
keringat yang bercucuran seperti orang habis dikejar-kejar setan. Kecurigaan
Delima semakin memuncak. Dia pun memutuskan untuk mengikuti kakaknya saat
bekerja agar semua kecurigaan itu menghilang.
Dia melihat kakaknya didekat sebuah Mall yang besar dan
sedang berdiri melihat-lihat orang yang akan masuk ke Mall itu. Setelah itu
Delima pun kaget melihat kakaknya berlari sambil merebut sebuah tas milik
seorang ibu. Kakaknya pun dikejar-kejar oleh banyak orang termasuk satpam Mall
itu. Delima langsung ikut mengejar kakaknya dan lagi-lagi lolos. Dia tidak
percaya semua yang dilihatnya tadi.
Di Rumah Delima pun menangis. Rami pulang ke Rumah dan
langsung mendatangi adiknya yang sedang menangis itu.
“ Kamu kenapa, ma?” Tanya Rami
“ Gak ada apa-apa kok kak. Delima cuma lagi sedih aja.”
Jawab Delima
“ Sedih kenapa sayang, cerita dong sama kakak. Gak
biasanya kamu nangis.” Bujuk Rami
“ Kak, kakak jujur deh sama Delima. Kenapa pekerjaan
kakak seperti itu? Itu gak baik kak!” kata Delima
“ Maksud kamu apa? Pekerjaan kakak kan baik.” Rami
mengelak
“ Udah deh kak, gak usah bohong lagi. Aku udah tahu
semua. Sebenarnya pekerjaan kakak adalah jadi pencopet jadi selama ini uang
yang kakak bawa pulang dan untuk menghidupi kami semua itu tidak halal kan?”
Delima menjelaskan
“emm, eh iiiiiya. Kamu tahu dari mana?” jawab Rami
“ Itu gak penting. Yang penting sekarang kakak harus
berhenti dari pekerjaan kakak itu.” Pinta Delima
“ Tetapi, itu gak mungkin. Kalau kakak berhenti mencopet
kita makan pakek apa?” Rami menolak
“ Kalau kakak gak mau ya udah. Mulai sekarang aku dan
adik-adik gak mau makan hasil copetan kakak.” Delima memutuskan
Rami pun mulai berpikir dua kali untuk memutuskan apa
yang harus dia lakukan. Delima sangat marah padanya. Dia meminta maaf pada
Delima tetapi tidak dimaafkan. Delima akan memaafkannya setelah Rami mau
berhenti dari pekerjaannya itu.
Walaupun demikian Rami tetap saja tidak mau berhenti dari
pekerjaannya. Dia tidak mau menuruti kata-kata adiknya karena dia beranggapan
bahwa itu adalah satu-satunya jalan untuk menghidupi adik-adiknya. Dia masih
sering mencopet orang-orang yang dia pikir kaya.
Saat Rami menjambret seseorang, dia mungkin sedang kurang
konsentarasi. Dia pun yang biasanya tidak tertangkap saat dikejar, akhirnya
tertangkap juga. Rami dikeroyok banyak orang dan dia pun dimasukkan ke dalam
penjara. Dia menyesal atas semua perbuatannya tetapi dia sadar bahwa ini adalah
hukuman untuknya. Delima juga mengunjunginya dan ini adalah kesempatan yang
baik untuk meminta maaf kepada Delima.
“ Ma, maafkan
kakak ya…… sudah tidak menuruti semua kata-katamu kemarin. Kakak menyesal sekli
atas perbuatan kakak sebelumnya.” Rami meminta maaf
“ Kak, sebenarnya Delima udah maafin kakak kok. Delima
seneng kakak udah sadar.” Ucap Delima
“ Makasih banget ya, Ma!” kata Rami
“ Sama-sama kak. Delima akan kasi kakak satu kesempatan
lagi. Kakak harus tunjukin keaku kalau kakak beneran udah berubah.” kata Delima
“ oke-oke siip. Kakak gak akan ngecewain Delima lagi.”
Jawab Rami
Tiga bulan pun berlalu. Rami pun sudah bisa keluar dari
penjara. Rami banyak mendapatkan pembelajaran yang berharga di dalam penjara. Banyak
sesuatu yang dapat membuat dia sadar akan semua kesalahannya.
Rami pun juga berusaha menunjukan kalau dia sudah berubah.
Dia mulai mencari pekerjan yang baru dengan didampingi Delima sambil menemukan
orang yang pernah dijambret untuk meminta maaf. Walaupun semua itu dia lakukan
dengan susah payah.
Akhirnya Rami sudah mendapat pekerjaan yang mungkin bisa
untuk menghidupi adik-adiknya. Rami juga sudah meminta maaf kepada orang-orang
yang pernah dia jambret. Delima sangat bahagia karena kakaknya sudah bisa
membuktikan kalau dia memang sudah berubah.
Hingga suatu saat Rami pulang kerja dia mendapat sebuah
rintangan. Saat dia menemukan seorang yang pernah dijambret dan berniat untuk
meminta maaf. Rami pun mengejar orang itu dengan sepenuh tenaga seperti saat
dia sedang menjambret. Tanpa melihat kanan kiri saat menyebrang, Rami pun tertabrak
mobil yang sedang melintas.
Orang yang melihat kejadian itu langsung membawanya ke
Rumah Sakit terdekat. Orang itu juga sudah mengabari Delima menggunakan HP
milik Rami yang terdapat kontak bernama adik. Delima pun sangat soock mendengar
berita itu dan langsung bergegas pergi ke Rumah Sakit itu. Di Rumah Sakit
Delima langsung menemui kakaknya karena kakaknya sedang ingin bicara kepadanya.
“ Ma, kkaakak bisa minta tolong kekamu gak?” Tanya Rami
“ Minta tolong apa kak?” kata Delima sambil menangis
“ Tolong kamu cari orang yang benama Ibu Lidia dan
mintakan maaf kepadanya ya...” pinta Rami
“ iya kak.” Jawab Delima
“ Tolong jaga adik-adik mu ya……jika kakak sudaaahhh
gggaak ada.” Kata terakhir Rami sebelum menghembuskan napas terakhir
“ iya kak, kkkaaakkkkk……jangan tinggalin aku….kakak
bangun dong….” Kata Delima sambil menangis.
Rami pun pergi untuk selamanya. Delima akhirnya dapat
merelakan kepergian kakaknya. Dia juga sudah berhasil menemukan ibu Lidia. Dia
yakin kakaknya akan hidup senang di sana.
“ Biarlah itu semua menjadi takdirnya Kak Rami.
Untungnya Kak Rami mempunyai kesempatan
untuk berubah menjadi lebih baik. Walaupun itu menjadi kesempatan terakhir.”
Kata Delima dalam hati
Delima pun hidup bahagia bersama kedua adiknya.
OLEH: RIZKA PUSPITASARI
SELESAI
Tugas ku..
ORAA ELOKK
Dino ngene
isih ngandel karo sing ngononan? Kakehan saka awake dhewe
saiki mesti wis maido meneh karo hal hal koyo ngono kuwi. Ning poro wong
tua/wong ndek mben (simbah kakung, simbah putri) awake
dewe bokmenawa isih ngandel karo hal hal koyo ngene iki. Yen awake dhewe
cermati krasa ora mlebu budi, ning pepira ana benere
uga.
Iki
sakitik macam ora elok (pamali) sing panitaya:
Ngalih panggon
nang wayah pangan
amarga mbesuk ngakibatke arep entuk embok tiri.
Wahing sak-uga arep lelungan
amarga yen kowe wahing teras lunga kowe arep celaka neng dalan.
Nyuwe-suwe ning kamar adus
amarga arep kedelok luwih tuwa saka umurmu sabenere.
Linggih ning lawang
amarga dikuwatirke ana makhluk liwat sing ngliwati lawang kesebut lan kowe arep tiba lara.
amarga mbesuk ngakibatke arep entuk embok tiri.
Wahing sak-uga arep lelungan
amarga yen kowe wahing teras lunga kowe arep celaka neng dalan.
Nyuwe-suwe ning kamar adus
amarga arep kedelok luwih tuwa saka umurmu sabenere.
Linggih ning lawang
amarga dikuwatirke ana makhluk liwat sing ngliwati lawang kesebut lan kowe arep tiba lara.
Kebiyasan
linggih neng tengah lawang wayah mudhun udan lebat
amarga mubarang pas, kowe
bisa tersambar petir (sing sabenere petir kesebut, konon, mengincar setan).
Kebiyasan
nyokot lambe sisih ngisor
amarga mbesuk kowe arep nduwe nasib ala lan rezeki seret.
Kebiyasan nyokot lambe sisih dhuwur
amarga arep sanuli akeh utang jero urip
Kebiyasan nyokot kuku
amarga arep ngundang nasib ala lan panggawan kerep gugup uga arep rekasa batin.
Kebiyasan mutir rambut
amarga mbesuk kowe arep dadi bakal gunjingan wong lan dadi korban fitnah. Kebiyasan menehi saputangan marang kasih
amarga ta ngakibatke pisahan tanpa amerga.
Kebiyasan nganggo kelambi karo mlaku
amarga arep nduwe akibat cita-cita ora arep kelakon.
Kebiyasan nyanyi utawa besiul nang wayah lagi pangan
amarga kowe arep ngalami kewurungan jero upadi.
amarga mbesuk kowe arep nduwe nasib ala lan rezeki seret.
Kebiyasan nyokot lambe sisih dhuwur
amarga arep sanuli akeh utang jero urip
Kebiyasan nyokot kuku
amarga arep ngundang nasib ala lan panggawan kerep gugup uga arep rekasa batin.
Kebiyasan mutir rambut
amarga mbesuk kowe arep dadi bakal gunjingan wong lan dadi korban fitnah. Kebiyasan menehi saputangan marang kasih
amarga ta ngakibatke pisahan tanpa amerga.
Kebiyasan nganggo kelambi karo mlaku
amarga arep nduwe akibat cita-cita ora arep kelakon.
Kebiyasan nyanyi utawa besiul nang wayah lagi pangan
amarga kowe arep ngalami kewurungan jero upadi.
Ngangkat sikil
Pas turu tengkurap/nglakoke
sikil kedhuwur sakarone utawa siji wae, tandane menawa kowe mengenke mengenke
samubarang sing ala kedadean nang embokmu
Nggunting kuku dina wengi
amarga arep nggawe umur kowe luwih singkat.
Ngetoke suwara pas pangan
amarga arep nduwe akibat dadi bakal gunjingan wong liya, utawa dadi pangundang binatang buas.
Nggunting rambut dina wengi neng omah
amarga berakitbat kowe arep ditekani makhluk lembut ala jero impi.
Nggunting kuku dina wengi
amarga arep nggawe umur kowe luwih singkat.
Ngetoke suwara pas pangan
amarga arep nduwe akibat dadi bakal gunjingan wong liya, utawa dadi pangundang binatang buas.
Nggunting rambut dina wengi neng omah
amarga berakitbat kowe arep ditekani makhluk lembut ala jero impi.
Turu
terlentang karo tangan neng endhas
amarga sacara ora teras arep nyupatani wong tuwa kowe kanggo lunga kanggo salawas-lawase
amarga sacara ora teras arep nyupatani wong tuwa kowe kanggo lunga kanggo salawas-lawase
Selasa, 17 September 2013
cerpen pertamaku dulu, 3 tahun yang lalu
Hidup Bersahabat
Saya seorang siswa kelas IX bernama Riris yang sudah lama
bersahabat dengan Rima seorang siswa kelas VIII. Saya sudah lama bersahabat
dengannya selama 5 tahun dan kami tinggal disatu RT. Pertemuan kami berawal
dari pindahnya saya sekeluarga kerumah baru yang hanya berbeda RT dengan
sebelumnya. Saya pindah pada tanggal 5 Agustus 2006 saat masih kelas IV SD.
Pertama kali tinggal disini saya merasa malu dan sungkan
dengan teman-teman. Sebelum tinggal di sini saya sudah pernah diajak kenalan
sama 2 orang teman.
“ Mbak, namamu siapa ? “ Tanya seorang teman
“ Aku Riris, lha kamu ? “ jawabku bertanya
“ Aku Dhania dan ini Yani. ” jawabnya kembali
Kami pun berteman. Selain itu saya juga sudah kenal dengan
seorang teman bernama Raina yang dulu teman saat saya TK. Sejak saat itu saya
sudah mengenal sebagian dari teman-teman di sini.
Saat hari pertama di
sini sedang ada lomba untuk menyambut hari Kemerdekaan. Saya pun turut diajak
untuk mengikutinya. Teman-teman juga banyak yang menyoraki dan memberi dukungan
kepada saya. Saya senang karena sudah memiliki banyak teman di sini. Hari-hari
saya berjalan diselimuti keceriaan bersama semua teman. Hingga suatu saat
terjadi konflik antara saya dengan Rima yang berpengaruh terhadap persahabatan
kami.
“ Mbak, maen yuk ! “ ajak Rima
“ Ok, maen apa, Rim ?” jawabku
“ Maen bulu tangkis aja.” Kata Tami
Kami pun bermain bulu tangkis tetapi, sebelum bermain kami
hompimpa dahulu. Ternyata saya dan Tami yang menang. Jadi seharusnya yang main
saya dan Tami dahulu. Namun Rima malah marah dan musuhin saya. Dia menuduh saya
mainnya curang dan sudah membohonginya. Padahal saya tidak berbuat curang atau
membohonginya.
Kami musuhan selama lebih dari tiga hari dan setelah itu
adik saya mengadu pada Ibu tentang permusuhan saya dengan Rima. Ibu langsung
menemui Rima dan menyatukan kami tetapi, Rima malah bilang ke Ibu kalau yang
mulai duluan itu saya.
“ Mbak Riris dulu yang mulai, Bu ! “ adu Rima
“ Bukan, tetapi Rima dulu !” sahutku
“ Sudah nggak apa-apa sekarang maafan ya,nggak boleh musuhan
lagi.” kata Ibu.
Padahal sudah jelas kalau yang mulai duluan itu Rima bukan
saya. Akhirnya kami pun maafan dan kembali berteman. Dari tahun ke tahun hal
seperti itu sering sekali terjadi dalam persahabatan kami. Setiap tahun atau
beberapa bulannya pasti selalu ada saja teman yang dimusuhi sama Rima. Hal
seperti itu menjadi sudah biasa dalam persahabatan kami. Walaupun demikian kami
masih tetap saling menyayangi.
Saat saya sudah kelas VI SD pernah suatu ketika saya
mendapat surat cinta dari orang yang pernah saya suka. Saya pun tidak percaya
kalau surat itu dari dia. Saya bertanya kepada sahabat-sahabat dan mereka
bilang itu memang benar dari dia. Walaupun semua berkata seperti itu saya tetap
tidak percaya. Karena selama ini perasaan saya tidak pernah salah mengira
tentang apa yang terjadi. Terkadang terlintas dalam pikiran saya tentang
mengarahnya perasaan saya pada kebohongan yang mungkin terjadi. Dalam hati
berkata bahwa semua kebohongan pasti suatu saat akan terungkap. Biarlah semua
itu menjadi rencana Allah SWT.
Ada saat-saat di mana saya harus menjaga kekompakan dengan
teman-teman. Saya sangat senang dengan kekompakan semua teman di sini walaupun
ada beberapa yang tidak. Apalagi saat bulan Ramadhan yang kami manfaatkan untuk
menjaga kebersamaan serta kekompakan.
Kami semua termasuk yang teman laki-laki tidur di Balai
Pertemuan RT. Sebelum tidur kami pasti bermain terlebih dulu hingga mengantuk.
Ada yang lempar-lemparan bantal, nyanyi bersama, memfoto-foto teman yang sudah
tidur dll. Kalau ada yang sudah bangun, kami pasti saling membangunkan teman
yang lain. Kami bangun langsung pulang untuk sahur. Sehabis sahur kami kumpul
lagi untuk bermain, jalan-jalan, atau tidur lagi.
Setelah bulan Ramadhan dua bulan berlalu, saya dan
teman-teman cewek yang lain mengikuti sanggar tari. Kami latihan menari di
Lapangan RT hampir setiap harridan tarian kami juga sering dipentaskan. Pentas
pertama kami di Lawang Sewu untuk memperingati hari ulang tahun kota Semarang.
Kami pentas pada hari Minggu, satu hari sebelum saya mengikuti UASBN. Pentas
pertama kami pun sukses.
Esok harinya saya mengikuti UASBN. UASBN hari pertama hingga
ketiga pun berjalan lancardan saya bias mengerjakan semua mata pelajaran dengan
jujur. Karena saya yakin bahwa kejujuran merupakan kunci mencapai kesuksesan.
Beberapa minggu kemudian hasil UASBN diumumkan.
Alhamdulillah saya lulus dengan nilai yang lumayan. Guru saya saat di Kelas
Menyebutkan semua nilai.
“ Riris, Bahasa Indonesia 8.40 ; Matematika 9.25 ; IPA 8.75.
jumlahnya 26.40.” sebut Guruku
“ Alhamdulillah, beneran tu Lin ?” tanyaku ke Sahabat
“ Benar itu Ris, kamu hebat. Aku aja cuma 24.45.” jawab Lina
“ Lina, nilai berapa aja itu harus kita syukuri.” Kataku
“ Iya Ris, Alhamdulillah.” Sahut Lina
Lina itu seorang sahabatku saat di Kelas VI SD. Sesuatu apa
saja kami selalu jalani bersama-sama dengan canda tawa, tanpa beban. Saya
bersahabat dengan Lina tidak pernah marahan ataupun musuhan karena kami tahu
itu tidak baik. Kami saling menjaga hati. Kami tidak pernah main
rahasia-rahasiaan dan selalu terbuka satu sama lain. Jika ada masalah kami
selalu jujur dan menyelesaikan masalah itu bersama.
Liburan kenaikan kelas pun tiba. Saya dengan teman-teman
nari melanjutkan pentas yang kedua di Taman Budaya Raden Saleh atau yang sering
disingkat TBRS. Pentas kami berlangsung pada malam hari. Alhamdulillah pentas
kami yang kedua berjalan lancar. Selain itu liburan ini saya gunakan untuk
mendaftar sekolah.
Saat sudah ada pendaftaran, saya mendaftar ke SMP 9 sebagai
pilihan pertama dan SMP 15 sebagai pilihan kedua. Setelah melewati beberapa
proses yang rumit, akhirnya saya dapat diterima di SMP 9. Setelah itu saya
melanjutkan pentas tari yang ketiga.
Pentas ketiga kami di Pasadena. Sewaktu satu hari sebelum
saya masuk sekolah pertama kali di SMP 9. Itu pun juga berjalan lancar. Pentas
yang ketiga menjadi pentas terakhir kami. Karena setelah itu kami tidak
mengikuti sanggar tari lagi. Kemungkinan ada suatu hal yang tidak kami ketahui
tetapi, kami tidak memikirkan itu.
Saat di kelas VII saya sangat senang karena mempunyai banyak
teman dan sahabat baru. Hari-hari saya di Kelas VII diselimuti kebahagiaan
karena semua teman yang sangat baik dan kompak. Tidak terasa saat-saat di Kelas
VII sudah terlewat. Banyak sekali penyesalan yang terjadi saat saya di kelas
VII. Karena kelasnya di acak kembali jadi banyak yang tidak satu kelas lagi.
Saat liburan kenaikan kelas saya dan semua teman satu RT
pergi tamasya ke Siwarak. Disana kami berenang disela-sela canda tawa. Laki
perempuan saling bersenda gurau untuk menambah semangat saat bermain di kolam
renang. Peristiwa liburan seperti itu sering sekali terjadi tiap liburan
sekolah. Walaupun terkadang tempatnya tidak selalu sama.
Saya naik kelas VIII dan Rima lulus SD. Kebetulan Rima
mendaftar dan dapat diterima di SMP 9. Saya dan Rima pun sekolah di tempat yang
sama. Kami menjadi kakak dan adik kelas karena saya kelas VIII dan Rima kelas
VII. Di sini lah puncak persahabatan kami. Persahabatan kami menjadi lebih erat
dari yang sebelumnya. Karena kami kalau pulang bersama dan selain itu kami jadi
lebih sering melakukan segala sesuatu bersama. Jika sedang di jalan, kami
sering sekali cerita-cerita sesuatu yang menarik ataupun tidak menarik. Kami
pun juga senang saling curhat-curhatan. Terkadang yang curhat Rima dan kadang
saya. Sesuatu yang kami curhatkan sering kali sebuah rahasia besar yang harus
dijaga dan tidak boleh ada seorang pun yang mengetahuinya.
Saat saya kelas VIII ini tidak seperti yang dulu. Dahulu
sering sekali kalau saya curhat sama Rima esok harinya atau selang beberapa
hari pasti curhatan saya terbongkar. Namun, saat saya kelas VIII kami saling
menutup dan menjaga rahasia-rahasia itu.
Sering kali saya curhat ke Rima tentang orang yang saya
suka, tidak suka dan semua yang merupakan suatu rahasia. Rima sering sekali
curhat tentang orang yang dia suka, sahabatnya, dll. Kami menjaga semua rahasia
itu dengan baik.
Di kelas VIII saya pun juga mempunyai banyak sahabat namanya
Lidia, Inaya, Lista, Aulia, Nani. Mereka adalah sahabat yang sangat baik dan
care sama saya. Saat di kelas kami sering cerita-cerita juga curhat-curhatan.
Sering sekali kalau ada tugas atau PR kami selalu berdiskusi bersama. Saat
study tour kami juga memilih untuk menjadi satu kelompok. Kami tidak pernah saling
membohongi satu sama lain dan selalu terusterang jika ada masalah.
Pernah suatu ketika saya marahan dengan Lista atau Lidia
tetapi, itu tidak bias bertahan lama. Pasti kami tiba-tiba main bareng atau
bersenda gurau bersama lagi. Apalagi saya dengan Lista. Kami kalau sedang
cerita-cerita pasti terlalu asyik dan sering sekali tentang orang yang kami
suka. Saya dan sahabat-sahabat selalu saling bersaing untuk memperebutkan
ranking di kelas. Kami biasanya mendapatkan ranking sepuluh besar. Biasanya
yang salib-menyalib ranking itu saya dengan Nani, Lidia dengan Inaya. Walaupun
saling bersaing, kami tidak pernah saling pelit ilmu dan ika ada teman yang
kurang bisa pasti saling membantu. Sering kali kami selalu saling mencocokkan
sesuatu yang dikerjakan. Saya sangat senang tetapi, semuanya tidak terasa kami
pun berpisah. Kenaikan kelas pun tiba dan saat kelas IX nya kami beda kelas
kecuali saya, Lidia, dan Inaya.Karena kelas kami kembali seperti saat kelas
VII.
Saat saya sudah kelas IX dan Rima kelas VIII persahabatan
kami melemah. Saat itu kami jadi sering tidak bersama karena Rima berubah.
Banyak sekali perubahan pada dirinya. Sering sekali dia nyuekin dan tidak
ngajak main saya lagi. Kami pun hampir seperti orang yang sedang marahan
padahal tidak. Perasaan saya mengatakan bahwa ada sesuatu yang sedang
disembunyikan oleh Rima. Pernah suatu ketika Hendri temannya orang yang pernah
saya suka bilang ke saya.
“ Eh Ris, kamu suka sama Nando kan ?” kata Hendri
“ Ih, PD mu tu lho.” Jawabku
“ Iya yo, ada buktinya lho!” seru Hendri
“ gak yo, sekarang buktinya apa ?” tanyaku
“ Yang penting ada.” Jawab Hendri
Begitulah yang dibicarakan Hendri kepada saya. Perasaan saya
mengatakan bahwa ada yang sudah memberitahukan tentang itu ke Hendri dan itu
kemungkinan Rima. Esok harinya saya mengirim sms ke Hendri menanyakan tentang
buktinya tetapi, sms tidak dia balas. Saat saya pulang sekolah bersama dengan
Rima. Saya menceritakan kepadanya kalau Hendri berkata seperti itu ke saya dan
saya juga sudah sms Hendri. Rima pun langsung salah tingkah dan dia seperti
kebingungan mau menjawab apa. Dugaan saya semakin kuat bahwa itu semua
perbuatan Rima.
Saya mencari tahu tentang semua yang sedang terjadi. Sore
harinya saat sedang ada tadarusan di Mushola, saya mendengar Rima bicara
sesuatu ke Hendri. Ternyata yang mereka bicarakan adalah Rima menyuruh Hendri
untuk tidak memberi tahu saya kalau itu semua perbuatan Rima. Akhirnya sudah
terbukti bahwa yang selama ini sering membongkar-bongkar rahasia saya ternyata
Rima. Selain itu dia juga yang membohongi saya tentang surat cinta tiga tahun
lalu. Surat cinta itu yang merekayasa adalah Rima dan Yani. Semua dugaan
perasaan saya itu sudah terungkap dan benar adanya. Sejak saat itu saya kembali
musuhan dengan Rima karena dia yang memulai.
Di Rumah saya sering sekali mendengar tentang ejekan mereka
di depan rumah saya. Perasaan saya pun kembali mengatakan bahwa ejekan mereka
itu untuk saya. Saya pun bertanya pada Dhania tentang ejekan itu.
“ Eh, yang sering dikatakan Rima di depan rumahku ndak buat
aku ? “ tanyaku heran
“ Bukan kok mbak.” Jawab Dhania
“ Tapi kok kalian kalau ngomong itu di depan Rumahku!”
kataku
“ Bukan kok mbak, bukan keluargamu.” Kata Dhania mengelak
“ o ya udah makasih.” Ucapku
Beberapa hari kemudian teman adikku bilang ke saya kalau
Rima dan teman yang lain mengejek saya. Jadi ternyata benar bahwa ejekan mereka
itu untuk saya. Esoknya Rima sms saya yang isinya tentang yang salah menurut
dia adalah saya saya. Sms Rima itu menurut saya sangat kurangajar. Karena dia
sudah terbukti salah malah menjelek-jelekkan, mengata-ngatakan saya. Dalam
smsnya dia juga mengatakan bahwa saya tidak punya harga diri. Dia juga
mengatakan bahw saya itu over karena menurutnya semua yang ada didiriku itu
aneh. Selain itu banyak lagi yang dia katakana tetapi, menurut saya ya sudahlah
tidak apa-apa. Kalau memang itu sudah menjadi keputusannya biarlah dia sadar
dengan sendirinya. Saya berharap semua yang sudah terjadi tidak terulang lagi.
Semua itu saya ambil hikmahnya saja. Walaupun demikian tetaplah sebuah kebohongan
itu salah. Semua kebohongan pasti akan terungkap bila sudah datang waktunya.
THE END
Langganan:
Postingan (Atom)