Hidup Bersahabat
Saya seorang siswa kelas IX bernama Riris yang sudah lama
bersahabat dengan Rima seorang siswa kelas VIII. Saya sudah lama bersahabat
dengannya selama 5 tahun dan kami tinggal disatu RT. Pertemuan kami berawal
dari pindahnya saya sekeluarga kerumah baru yang hanya berbeda RT dengan
sebelumnya. Saya pindah pada tanggal 5 Agustus 2006 saat masih kelas IV SD.
Pertama kali tinggal disini saya merasa malu dan sungkan
dengan teman-teman. Sebelum tinggal di sini saya sudah pernah diajak kenalan
sama 2 orang teman.
“ Mbak, namamu siapa ? “ Tanya seorang teman
“ Aku Riris, lha kamu ? “ jawabku bertanya
“ Aku Dhania dan ini Yani. ” jawabnya kembali
Kami pun berteman. Selain itu saya juga sudah kenal dengan
seorang teman bernama Raina yang dulu teman saat saya TK. Sejak saat itu saya
sudah mengenal sebagian dari teman-teman di sini.
Saat hari pertama di
sini sedang ada lomba untuk menyambut hari Kemerdekaan. Saya pun turut diajak
untuk mengikutinya. Teman-teman juga banyak yang menyoraki dan memberi dukungan
kepada saya. Saya senang karena sudah memiliki banyak teman di sini. Hari-hari
saya berjalan diselimuti keceriaan bersama semua teman. Hingga suatu saat
terjadi konflik antara saya dengan Rima yang berpengaruh terhadap persahabatan
kami.
“ Mbak, maen yuk ! “ ajak Rima
“ Ok, maen apa, Rim ?” jawabku
“ Maen bulu tangkis aja.” Kata Tami
Kami pun bermain bulu tangkis tetapi, sebelum bermain kami
hompimpa dahulu. Ternyata saya dan Tami yang menang. Jadi seharusnya yang main
saya dan Tami dahulu. Namun Rima malah marah dan musuhin saya. Dia menuduh saya
mainnya curang dan sudah membohonginya. Padahal saya tidak berbuat curang atau
membohonginya.
Kami musuhan selama lebih dari tiga hari dan setelah itu
adik saya mengadu pada Ibu tentang permusuhan saya dengan Rima. Ibu langsung
menemui Rima dan menyatukan kami tetapi, Rima malah bilang ke Ibu kalau yang
mulai duluan itu saya.
“ Mbak Riris dulu yang mulai, Bu ! “ adu Rima
“ Bukan, tetapi Rima dulu !” sahutku
“ Sudah nggak apa-apa sekarang maafan ya,nggak boleh musuhan
lagi.” kata Ibu.
Padahal sudah jelas kalau yang mulai duluan itu Rima bukan
saya. Akhirnya kami pun maafan dan kembali berteman. Dari tahun ke tahun hal
seperti itu sering sekali terjadi dalam persahabatan kami. Setiap tahun atau
beberapa bulannya pasti selalu ada saja teman yang dimusuhi sama Rima. Hal
seperti itu menjadi sudah biasa dalam persahabatan kami. Walaupun demikian kami
masih tetap saling menyayangi.
Saat saya sudah kelas VI SD pernah suatu ketika saya
mendapat surat cinta dari orang yang pernah saya suka. Saya pun tidak percaya
kalau surat itu dari dia. Saya bertanya kepada sahabat-sahabat dan mereka
bilang itu memang benar dari dia. Walaupun semua berkata seperti itu saya tetap
tidak percaya. Karena selama ini perasaan saya tidak pernah salah mengira
tentang apa yang terjadi. Terkadang terlintas dalam pikiran saya tentang
mengarahnya perasaan saya pada kebohongan yang mungkin terjadi. Dalam hati
berkata bahwa semua kebohongan pasti suatu saat akan terungkap. Biarlah semua
itu menjadi rencana Allah SWT.
Ada saat-saat di mana saya harus menjaga kekompakan dengan
teman-teman. Saya sangat senang dengan kekompakan semua teman di sini walaupun
ada beberapa yang tidak. Apalagi saat bulan Ramadhan yang kami manfaatkan untuk
menjaga kebersamaan serta kekompakan.
Kami semua termasuk yang teman laki-laki tidur di Balai
Pertemuan RT. Sebelum tidur kami pasti bermain terlebih dulu hingga mengantuk.
Ada yang lempar-lemparan bantal, nyanyi bersama, memfoto-foto teman yang sudah
tidur dll. Kalau ada yang sudah bangun, kami pasti saling membangunkan teman
yang lain. Kami bangun langsung pulang untuk sahur. Sehabis sahur kami kumpul
lagi untuk bermain, jalan-jalan, atau tidur lagi.
Setelah bulan Ramadhan dua bulan berlalu, saya dan
teman-teman cewek yang lain mengikuti sanggar tari. Kami latihan menari di
Lapangan RT hampir setiap harridan tarian kami juga sering dipentaskan. Pentas
pertama kami di Lawang Sewu untuk memperingati hari ulang tahun kota Semarang.
Kami pentas pada hari Minggu, satu hari sebelum saya mengikuti UASBN. Pentas
pertama kami pun sukses.
Esok harinya saya mengikuti UASBN. UASBN hari pertama hingga
ketiga pun berjalan lancardan saya bias mengerjakan semua mata pelajaran dengan
jujur. Karena saya yakin bahwa kejujuran merupakan kunci mencapai kesuksesan.
Beberapa minggu kemudian hasil UASBN diumumkan.
Alhamdulillah saya lulus dengan nilai yang lumayan. Guru saya saat di Kelas
Menyebutkan semua nilai.
“ Riris, Bahasa Indonesia 8.40 ; Matematika 9.25 ; IPA 8.75.
jumlahnya 26.40.” sebut Guruku
“ Alhamdulillah, beneran tu Lin ?” tanyaku ke Sahabat
“ Benar itu Ris, kamu hebat. Aku aja cuma 24.45.” jawab Lina
“ Lina, nilai berapa aja itu harus kita syukuri.” Kataku
“ Iya Ris, Alhamdulillah.” Sahut Lina
Lina itu seorang sahabatku saat di Kelas VI SD. Sesuatu apa
saja kami selalu jalani bersama-sama dengan canda tawa, tanpa beban. Saya
bersahabat dengan Lina tidak pernah marahan ataupun musuhan karena kami tahu
itu tidak baik. Kami saling menjaga hati. Kami tidak pernah main
rahasia-rahasiaan dan selalu terbuka satu sama lain. Jika ada masalah kami
selalu jujur dan menyelesaikan masalah itu bersama.
Liburan kenaikan kelas pun tiba. Saya dengan teman-teman
nari melanjutkan pentas yang kedua di Taman Budaya Raden Saleh atau yang sering
disingkat TBRS. Pentas kami berlangsung pada malam hari. Alhamdulillah pentas
kami yang kedua berjalan lancar. Selain itu liburan ini saya gunakan untuk
mendaftar sekolah.
Saat sudah ada pendaftaran, saya mendaftar ke SMP 9 sebagai
pilihan pertama dan SMP 15 sebagai pilihan kedua. Setelah melewati beberapa
proses yang rumit, akhirnya saya dapat diterima di SMP 9. Setelah itu saya
melanjutkan pentas tari yang ketiga.
Pentas ketiga kami di Pasadena. Sewaktu satu hari sebelum
saya masuk sekolah pertama kali di SMP 9. Itu pun juga berjalan lancar. Pentas
yang ketiga menjadi pentas terakhir kami. Karena setelah itu kami tidak
mengikuti sanggar tari lagi. Kemungkinan ada suatu hal yang tidak kami ketahui
tetapi, kami tidak memikirkan itu.
Saat di kelas VII saya sangat senang karena mempunyai banyak
teman dan sahabat baru. Hari-hari saya di Kelas VII diselimuti kebahagiaan
karena semua teman yang sangat baik dan kompak. Tidak terasa saat-saat di Kelas
VII sudah terlewat. Banyak sekali penyesalan yang terjadi saat saya di kelas
VII. Karena kelasnya di acak kembali jadi banyak yang tidak satu kelas lagi.
Saat liburan kenaikan kelas saya dan semua teman satu RT
pergi tamasya ke Siwarak. Disana kami berenang disela-sela canda tawa. Laki
perempuan saling bersenda gurau untuk menambah semangat saat bermain di kolam
renang. Peristiwa liburan seperti itu sering sekali terjadi tiap liburan
sekolah. Walaupun terkadang tempatnya tidak selalu sama.
Saya naik kelas VIII dan Rima lulus SD. Kebetulan Rima
mendaftar dan dapat diterima di SMP 9. Saya dan Rima pun sekolah di tempat yang
sama. Kami menjadi kakak dan adik kelas karena saya kelas VIII dan Rima kelas
VII. Di sini lah puncak persahabatan kami. Persahabatan kami menjadi lebih erat
dari yang sebelumnya. Karena kami kalau pulang bersama dan selain itu kami jadi
lebih sering melakukan segala sesuatu bersama. Jika sedang di jalan, kami
sering sekali cerita-cerita sesuatu yang menarik ataupun tidak menarik. Kami
pun juga senang saling curhat-curhatan. Terkadang yang curhat Rima dan kadang
saya. Sesuatu yang kami curhatkan sering kali sebuah rahasia besar yang harus
dijaga dan tidak boleh ada seorang pun yang mengetahuinya.
Saat saya kelas VIII ini tidak seperti yang dulu. Dahulu
sering sekali kalau saya curhat sama Rima esok harinya atau selang beberapa
hari pasti curhatan saya terbongkar. Namun, saat saya kelas VIII kami saling
menutup dan menjaga rahasia-rahasia itu.
Sering kali saya curhat ke Rima tentang orang yang saya
suka, tidak suka dan semua yang merupakan suatu rahasia. Rima sering sekali
curhat tentang orang yang dia suka, sahabatnya, dll. Kami menjaga semua rahasia
itu dengan baik.
Di kelas VIII saya pun juga mempunyai banyak sahabat namanya
Lidia, Inaya, Lista, Aulia, Nani. Mereka adalah sahabat yang sangat baik dan
care sama saya. Saat di kelas kami sering cerita-cerita juga curhat-curhatan.
Sering sekali kalau ada tugas atau PR kami selalu berdiskusi bersama. Saat
study tour kami juga memilih untuk menjadi satu kelompok. Kami tidak pernah saling
membohongi satu sama lain dan selalu terusterang jika ada masalah.
Pernah suatu ketika saya marahan dengan Lista atau Lidia
tetapi, itu tidak bias bertahan lama. Pasti kami tiba-tiba main bareng atau
bersenda gurau bersama lagi. Apalagi saya dengan Lista. Kami kalau sedang
cerita-cerita pasti terlalu asyik dan sering sekali tentang orang yang kami
suka. Saya dan sahabat-sahabat selalu saling bersaing untuk memperebutkan
ranking di kelas. Kami biasanya mendapatkan ranking sepuluh besar. Biasanya
yang salib-menyalib ranking itu saya dengan Nani, Lidia dengan Inaya. Walaupun
saling bersaing, kami tidak pernah saling pelit ilmu dan ika ada teman yang
kurang bisa pasti saling membantu. Sering kali kami selalu saling mencocokkan
sesuatu yang dikerjakan. Saya sangat senang tetapi, semuanya tidak terasa kami
pun berpisah. Kenaikan kelas pun tiba dan saat kelas IX nya kami beda kelas
kecuali saya, Lidia, dan Inaya.Karena kelas kami kembali seperti saat kelas
VII.
Saat saya sudah kelas IX dan Rima kelas VIII persahabatan
kami melemah. Saat itu kami jadi sering tidak bersama karena Rima berubah.
Banyak sekali perubahan pada dirinya. Sering sekali dia nyuekin dan tidak
ngajak main saya lagi. Kami pun hampir seperti orang yang sedang marahan
padahal tidak. Perasaan saya mengatakan bahwa ada sesuatu yang sedang
disembunyikan oleh Rima. Pernah suatu ketika Hendri temannya orang yang pernah
saya suka bilang ke saya.
“ Eh Ris, kamu suka sama Nando kan ?” kata Hendri
“ Ih, PD mu tu lho.” Jawabku
“ Iya yo, ada buktinya lho!” seru Hendri
“ gak yo, sekarang buktinya apa ?” tanyaku
“ Yang penting ada.” Jawab Hendri
Begitulah yang dibicarakan Hendri kepada saya. Perasaan saya
mengatakan bahwa ada yang sudah memberitahukan tentang itu ke Hendri dan itu
kemungkinan Rima. Esok harinya saya mengirim sms ke Hendri menanyakan tentang
buktinya tetapi, sms tidak dia balas. Saat saya pulang sekolah bersama dengan
Rima. Saya menceritakan kepadanya kalau Hendri berkata seperti itu ke saya dan
saya juga sudah sms Hendri. Rima pun langsung salah tingkah dan dia seperti
kebingungan mau menjawab apa. Dugaan saya semakin kuat bahwa itu semua
perbuatan Rima.
Saya mencari tahu tentang semua yang sedang terjadi. Sore
harinya saat sedang ada tadarusan di Mushola, saya mendengar Rima bicara
sesuatu ke Hendri. Ternyata yang mereka bicarakan adalah Rima menyuruh Hendri
untuk tidak memberi tahu saya kalau itu semua perbuatan Rima. Akhirnya sudah
terbukti bahwa yang selama ini sering membongkar-bongkar rahasia saya ternyata
Rima. Selain itu dia juga yang membohongi saya tentang surat cinta tiga tahun
lalu. Surat cinta itu yang merekayasa adalah Rima dan Yani. Semua dugaan
perasaan saya itu sudah terungkap dan benar adanya. Sejak saat itu saya kembali
musuhan dengan Rima karena dia yang memulai.
Di Rumah saya sering sekali mendengar tentang ejekan mereka
di depan rumah saya. Perasaan saya pun kembali mengatakan bahwa ejekan mereka
itu untuk saya. Saya pun bertanya pada Dhania tentang ejekan itu.
“ Eh, yang sering dikatakan Rima di depan rumahku ndak buat
aku ? “ tanyaku heran
“ Bukan kok mbak.” Jawab Dhania
“ Tapi kok kalian kalau ngomong itu di depan Rumahku!”
kataku
“ Bukan kok mbak, bukan keluargamu.” Kata Dhania mengelak
“ o ya udah makasih.” Ucapku
Beberapa hari kemudian teman adikku bilang ke saya kalau
Rima dan teman yang lain mengejek saya. Jadi ternyata benar bahwa ejekan mereka
itu untuk saya. Esoknya Rima sms saya yang isinya tentang yang salah menurut
dia adalah saya saya. Sms Rima itu menurut saya sangat kurangajar. Karena dia
sudah terbukti salah malah menjelek-jelekkan, mengata-ngatakan saya. Dalam
smsnya dia juga mengatakan bahwa saya tidak punya harga diri. Dia juga
mengatakan bahw saya itu over karena menurutnya semua yang ada didiriku itu
aneh. Selain itu banyak lagi yang dia katakana tetapi, menurut saya ya sudahlah
tidak apa-apa. Kalau memang itu sudah menjadi keputusannya biarlah dia sadar
dengan sendirinya. Saya berharap semua yang sudah terjadi tidak terulang lagi.
Semua itu saya ambil hikmahnya saja. Walaupun demikian tetaplah sebuah kebohongan
itu salah. Semua kebohongan pasti akan terungkap bila sudah datang waktunya.
THE END
ciee cah cerpen :'33
BalasHapushalahh
BalasHapus