Minggu, 22 September 2013

Cerpen kedua ku dulu, seperti cerpen pertamaku.. *mbuatnya



KESEMPATAN TERAKHIR
Siang itu memang sedang sangat panas. Rami masih terus berjalan mencari lowongan pekerjaan untuk menghidupi ketiga adiknya. Dia anak pertama dari empat bersaudara sedangkan kedua orang tuanya sudah tiada. Rami harus bekerja membanting tulang untuk mencari uang. Kehidupannya sangat sederhana. Rami dan adik-adiknya tinggal di tempat yang sangat kumuh. Tempat penyimpanan barang-barang rongsokan.
Saat di jalan, dia sudah hampir putus asa karena dia takut kalau hari ini adik-adiknya tidak bisa makan. Dia melihat seorang pencopet yang sedang menjambret seorang ibu yang kaya raya membawa tas yang sangat menarik. Mungkin semenarik isi tas itu. Dia juga melihat penjambret itu keluar dari sebuah rumah makan dengan membawa banyak makanan. Rami pun berpikir mungkin itu adalah sebuah jalan untuknya.
Saat dia akan masuk kesebuah perusahaan, dia melihat seorang ibu keluar dari perusahaan dengan membawa tas yang menarik. Tidak berpikir panjang lagi Rami pun langsung mengambil tas ibu itu lalu lari dengan sekuat tenaga. Ibu itu berteriak minta tolong karena tasnya dijambret. Rami pun dikejar oleh banyak orang yang mungkin ingin menghajarnya. Dia akhirnya bisa lolos dari maut. Rami lalu membuka tas ibu itu dan langsung pergi ke Warung makan untuk membelikan adik-adiknya makanan. Walaupun dengan menyesal Rami memberikan bungkusan makanan itu ke adik-adiknya. Delima adik Rami yang pertama bertanya.
“ Kak, kakak dapat makanan ini dari mana? Apakah kakak sudah dapat pekerjaan? “ Tanya delima
“ emm…..sudah ma. Alhamdulillah kakak sudah dapat pekerjaan yang lumayan.” Jawab Rami berbohong
“ ya sudah deh kak, Alhamdulillah.” Ucap delima
Rami berbohong karena dia tidak mau Delima tahu semua itu. Rima mulai berpikir bahwa Tuhan sudah tidak sayang lagi kepadanya. Menurutnya mencopet memang bukan hal yang baik, tetapi itu tadi dia lakukan dengan terpaksa. Rami pun bertekat untuk melanjutkan pekerjaan yang tadi dia lakukan.
Setiap hari Rami pergi bekerja menggunakan pakaian yang sopan agar Delima tidak curiga. Dia selalu menuju ke tempat yang kira-kira ramai dan terdapat banyak orang yang kaya. Semuanya Rami lakukan dengan baik dan tidak pernah ketangkap oleh orang-orang yang mengejarnya.
Hampir setiap hari Rami pulang ke rumah dengan membawa barang belanjaan untuk adik-adiknya. Sering sekali Rami juga mengajak adik-adiknya berlibur ke tempat yang mahal. Rami pun juga membeli rumah baru yang lebih layak huni.
“ Kak, kakak jujur deh sama Delima. Kenapa Kakak setiap hari membawa uang banyak padahal setahu aku gaji itu dibayar perbulan bukan setiap hari.” Tanya Delima dengan serius
“ emm itu,aaannnu.” Jawab Rami dengan gugup
“ jawab dong kak! Kk malah gugup sih.” Sahut Delima
“ Ma, emang pekerjaan kakak kayak gitu. Dapat gajinya setiap hari dan memang tempatnya juga besar. Jadi di situ sebuah perusahaan yang sukses dan dapat menggaji semua karyawan setiap hari dan banyak pula.” Jawab Rami meyakinkan
Rami pun selalu berbohong kepada adiknya. Semakin hari Delima semakin curiga dengan pekerjaan kakaknya. Hingga suatu saat Delima cerita ke kakaknya kalau Ibu temannya dijambret.
“ Kak, kemarin Ibunya Lani dijambret lho.” Cerita Delima
“ Kok bisa?” ucap Rami
“ iya kak, saat ibunya Lani sedang nunggu jemputan tiba-tiba kopernya yang berisi uang jutaan direbut orang. Orang itu sudah dikejar tetapi tidak ketangkap.” kata Delima
“ berarti itu yang kemarin aku jambret ( pikirnya dalam hati ). Terus ibu itu gimana?” Tanya Rami
“ Ya melapor ke kantor polisi lah kak. Jambretnya kurang ajar banget ya. Gak punya hati tuh jambret ! cari duwit kok kaya gitu kan sama aja itu tidak halal.” Jelas Delima
“ emm, o gitu ya.” Jawab Rami ketakutan
Pembicaraan mereka pun selesai. Di Kamar, Rami pun menangis sedih. Dia sebenarnya menyesal atas semua perbuatannya. Dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Walaupun demikian, Rami tetap tidak berhenti dari pekerjaannya karena pekerjaan itu satu-satunya cara untuk menghidupi adik-adiknya.
Sering sekali Delima melihat kakaknya pulang dengan keringat yang bercucuran seperti orang habis dikejar-kejar setan. Kecurigaan Delima semakin memuncak. Dia pun memutuskan untuk mengikuti kakaknya saat bekerja agar semua kecurigaan itu menghilang.
Dia melihat kakaknya didekat sebuah Mall yang besar dan sedang berdiri melihat-lihat orang yang akan masuk ke Mall itu. Setelah itu Delima pun kaget melihat kakaknya berlari sambil merebut sebuah tas milik seorang ibu. Kakaknya pun dikejar-kejar oleh banyak orang termasuk satpam Mall itu. Delima langsung ikut mengejar kakaknya dan lagi-lagi lolos. Dia tidak percaya semua yang dilihatnya tadi.
Di Rumah Delima pun menangis. Rami pulang ke Rumah dan langsung mendatangi adiknya yang sedang menangis itu.
“ Kamu kenapa, ma?” Tanya Rami
“ Gak ada apa-apa kok kak. Delima cuma lagi sedih aja.” Jawab Delima
“ Sedih kenapa sayang, cerita dong sama kakak. Gak biasanya kamu nangis.” Bujuk Rami
“ Kak, kakak jujur deh sama Delima. Kenapa pekerjaan kakak seperti itu? Itu gak baik kak!” kata Delima
“ Maksud kamu apa? Pekerjaan kakak kan baik.” Rami mengelak
“ Udah deh kak, gak usah bohong lagi. Aku udah tahu semua. Sebenarnya pekerjaan kakak adalah jadi pencopet jadi selama ini uang yang kakak bawa pulang dan untuk menghidupi kami semua itu tidak halal kan?” Delima menjelaskan
“emm, eh iiiiiya. Kamu tahu dari mana?” jawab Rami
“ Itu gak penting. Yang penting sekarang kakak harus berhenti dari pekerjaan kakak itu.” Pinta Delima
“ Tetapi, itu gak mungkin. Kalau kakak berhenti mencopet kita makan pakek apa?” Rami menolak
“ Kalau kakak gak mau ya udah. Mulai sekarang aku dan adik-adik gak mau makan hasil copetan kakak.” Delima memutuskan
Rami pun mulai berpikir dua kali untuk memutuskan apa yang harus dia lakukan. Delima sangat marah padanya. Dia meminta maaf pada Delima tetapi tidak dimaafkan. Delima akan memaafkannya setelah Rami mau berhenti dari pekerjaannya itu.
Walaupun demikian Rami tetap saja tidak mau berhenti dari pekerjaannya. Dia tidak mau menuruti kata-kata adiknya karena dia beranggapan bahwa itu adalah satu-satunya jalan untuk menghidupi adik-adiknya. Dia masih sering mencopet orang-orang yang dia pikir kaya.
Saat Rami menjambret seseorang, dia mungkin sedang kurang konsentarasi. Dia pun yang biasanya tidak tertangkap saat dikejar, akhirnya tertangkap juga. Rami dikeroyok banyak orang dan dia pun dimasukkan ke dalam penjara. Dia menyesal atas semua perbuatannya tetapi dia sadar bahwa ini adalah hukuman untuknya. Delima juga mengunjunginya dan ini adalah kesempatan yang baik untuk meminta maaf kepada Delima.
 “ Ma, maafkan kakak ya…… sudah tidak menuruti semua kata-katamu kemarin. Kakak menyesal sekli atas perbuatan kakak sebelumnya.” Rami meminta maaf
“ Kak, sebenarnya Delima udah maafin kakak kok. Delima seneng kakak udah sadar.” Ucap Delima
“ Makasih banget ya, Ma!” kata Rami
“ Sama-sama kak. Delima akan kasi kakak satu kesempatan lagi. Kakak harus tunjukin keaku kalau kakak beneran udah berubah.”  kata Delima
“ oke-oke siip. Kakak gak akan ngecewain Delima lagi.” Jawab Rami
Tiga bulan pun berlalu. Rami pun sudah bisa keluar dari penjara. Rami banyak mendapatkan pembelajaran yang berharga di dalam penjara. Banyak sesuatu yang dapat membuat dia sadar akan semua kesalahannya.
Rami pun juga berusaha menunjukan kalau dia sudah berubah. Dia mulai mencari pekerjan yang baru dengan didampingi Delima sambil menemukan orang yang pernah dijambret untuk meminta maaf. Walaupun semua itu dia lakukan dengan susah payah.
Akhirnya Rami sudah mendapat pekerjaan yang mungkin bisa untuk menghidupi adik-adiknya. Rami juga sudah meminta maaf kepada orang-orang yang pernah dia jambret. Delima sangat bahagia karena kakaknya sudah bisa membuktikan kalau dia memang sudah berubah.
Hingga suatu saat Rami pulang kerja dia mendapat sebuah rintangan. Saat dia menemukan seorang yang pernah dijambret dan berniat untuk meminta maaf. Rami pun mengejar orang itu dengan sepenuh tenaga seperti saat dia sedang menjambret. Tanpa melihat kanan kiri saat menyebrang, Rami pun tertabrak mobil yang sedang melintas.
Orang yang melihat kejadian itu langsung membawanya ke Rumah Sakit terdekat. Orang itu juga sudah mengabari Delima menggunakan HP milik Rami yang terdapat kontak bernama adik. Delima pun sangat soock mendengar berita itu dan langsung bergegas pergi ke Rumah Sakit itu. Di Rumah Sakit Delima langsung menemui kakaknya karena kakaknya sedang ingin bicara kepadanya.
“ Ma, kkaakak bisa minta tolong kekamu gak?” Tanya Rami
“ Minta tolong apa kak?” kata Delima sambil menangis
“ Tolong kamu cari orang yang benama Ibu Lidia dan mintakan maaf kepadanya ya...” pinta Rami
“ iya kak.” Jawab Delima
“ Tolong jaga adik-adik mu ya……jika kakak sudaaahhh gggaak ada.” Kata terakhir Rami sebelum menghembuskan napas terakhir
“ iya kak, kkkaaakkkkk……jangan tinggalin aku….kakak bangun dong….” Kata Delima sambil menangis.
Rami pun pergi untuk selamanya. Delima akhirnya dapat merelakan kepergian kakaknya. Dia juga sudah berhasil menemukan ibu Lidia. Dia yakin kakaknya akan hidup senang di sana.
“ Biarlah itu semua menjadi takdirnya Kak Rami. Untungnya  Kak Rami mempunyai kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Walaupun itu menjadi kesempatan terakhir.” Kata Delima dalam hati
Delima pun hidup bahagia bersama kedua adiknya.

OLEH: RIZKA PUSPITASARI
š SELESAI

Tugas ku..



Dino ngene isih ngandel karo sing ngononan? Kakehan saka awake dhewe saiki mesti wis maido meneh karo hal hal koyo ngono kuwi. Ning poro wong tua/wong ndek mben (simbah kakung, simbah putri) awake dewe bokmenawa isih ngandel karo hal hal koyo ngene iki. Yen awake dhewe cermati krasa ora mlebu budi, ning pepira ana benere uga.
Iki sakitik macam ora elok (pamali) sing panitaya:
Ngalih panggon nang wayah pangan
amarga mbesuk ngakibatke arep entuk embok tiri.
Wahing sak-uga arep lelungan
amarga yen kowe wahing teras lunga kowe arep celaka neng dalan.
Nyuwe-suwe ning kamar adus
amarga arep kedelok luwih tuwa saka umurmu sabenere.
Linggih ning lawang
amarga dikuwatirke ana makhluk liwat sing ngliwati lawang kesebut lan kowe arep tiba lara.
Kebiyasan linggih neng tengah lawang wayah mudhun udan lebat
amarga mubarang pas, kowe bisa tersambar petir (sing sabenere petir kesebut, konon, mengincar setan).
Kebiyasan nyokot lambe sisih ngisor
amarga mbesuk kowe arep nduwe nasib ala lan rezeki seret.
Kebiyasan nyokot lambe sisih dhuwur
amarga arep sanuli akeh utang jero urip
Kebiyasan nyokot  kuku
amarga arep ngundang nasib ala lan panggawan kerep gugup uga arep rekasa batin.
Kebiyasan mutir rambut
amarga mbesuk kowe arep dadi bakal gunjingan wong lan dadi korban fitnah. Kebiyasan menehi saputangan marang kasih
amarga ta ngakibatke pisahan tanpa amerga.
Kebiyasan nganggo kelambi karo mlaku
amarga arep nduwe akibat cita-cita ora arep kelakon.
Kebiyasan nyanyi utawa besiul nang wayah lagi pangan
amarga kowe arep ngalami kewurungan jero upadi.

Ngangkat sikil
Pas turu tengkurap/nglakoke sikil kedhuwur sakarone utawa siji wae, tandane menawa kowe mengenke mengenke samubarang sing ala kedadean nang embokmu
Nggunting kuku dina wengi
amarga arep nggawe umur kowe luwih singkat.
Ngetoke suwara pas pangan
amarga arep nduwe akibat dadi bakal gunjingan wong liya, utawa dadi pangundang binatang buas.
Nggunting rambut dina wengi neng omah
amarga berakitbat kowe arep ditekani makhluk lembut ala jero impi.
Turu terlentang karo tangan neng endhas
amarga sacara ora teras arep nyupatani wong tuwa kowe kanggo lunga kanggo salawas-lawase

Selasa, 17 September 2013

cerpen pertamaku dulu, 3 tahun yang lalu


Hidup Bersahabat
Saya seorang siswa kelas IX bernama Riris yang sudah lama bersahabat dengan Rima seorang siswa kelas VIII. Saya sudah lama bersahabat dengannya selama 5 tahun dan kami tinggal disatu RT. Pertemuan kami berawal dari pindahnya saya sekeluarga kerumah baru yang hanya berbeda RT dengan sebelumnya. Saya pindah pada tanggal 5 Agustus 2006 saat masih kelas IV SD.
Pertama kali tinggal disini saya merasa malu dan sungkan dengan teman-teman. Sebelum tinggal di sini saya sudah pernah diajak kenalan sama 2 orang teman.
“ Mbak, namamu siapa ? “ Tanya seorang teman
“ Aku Riris, lha kamu ? “ jawabku bertanya
“ Aku Dhania dan ini Yani. ” jawabnya kembali
Kami pun berteman. Selain itu saya juga sudah kenal dengan seorang teman bernama Raina yang dulu teman saat saya TK. Sejak saat itu saya sudah mengenal sebagian dari teman-teman di sini.
 Saat hari pertama di sini sedang ada lomba untuk menyambut hari Kemerdekaan. Saya pun turut diajak untuk mengikutinya. Teman-teman juga banyak yang menyoraki dan memberi dukungan kepada saya. Saya senang karena sudah memiliki banyak teman di sini. Hari-hari saya berjalan diselimuti keceriaan bersama semua teman. Hingga suatu saat terjadi konflik antara saya dengan Rima yang berpengaruh terhadap persahabatan kami.
“ Mbak, maen yuk ! “ ajak Rima
“ Ok, maen apa, Rim ?” jawabku
“ Maen bulu tangkis aja.” Kata Tami
Kami pun bermain bulu tangkis tetapi, sebelum bermain kami hompimpa dahulu. Ternyata saya dan Tami yang menang. Jadi seharusnya yang main saya dan Tami dahulu. Namun Rima malah marah dan musuhin saya. Dia menuduh saya mainnya curang dan sudah membohonginya. Padahal saya tidak berbuat curang atau membohonginya.
Kami musuhan selama lebih dari tiga hari dan setelah itu adik saya mengadu pada Ibu tentang permusuhan saya dengan Rima. Ibu langsung menemui Rima dan menyatukan kami tetapi, Rima malah bilang ke Ibu kalau yang mulai duluan itu saya.
“ Mbak Riris dulu yang mulai, Bu ! “ adu Rima
“ Bukan, tetapi Rima dulu !” sahutku
“ Sudah nggak apa-apa sekarang maafan ya,nggak boleh musuhan lagi.”  kata Ibu.
Padahal sudah jelas kalau yang mulai duluan itu Rima bukan saya. Akhirnya kami pun maafan dan kembali berteman. Dari tahun ke tahun hal seperti itu sering sekali terjadi dalam persahabatan kami. Setiap tahun atau beberapa bulannya pasti selalu ada saja teman yang dimusuhi sama Rima. Hal seperti itu menjadi sudah biasa dalam persahabatan kami. Walaupun demikian kami masih tetap saling menyayangi.
Saat saya sudah kelas VI SD pernah suatu ketika saya mendapat surat cinta dari orang yang pernah saya suka. Saya pun tidak percaya kalau surat itu dari dia. Saya bertanya kepada sahabat-sahabat dan mereka bilang itu memang benar dari dia. Walaupun semua berkata seperti itu saya tetap tidak percaya. Karena selama ini perasaan saya tidak pernah salah mengira tentang apa yang terjadi. Terkadang terlintas dalam pikiran saya tentang mengarahnya perasaan saya pada kebohongan yang mungkin terjadi. Dalam hati berkata bahwa semua kebohongan pasti suatu saat akan terungkap. Biarlah semua itu menjadi rencana Allah SWT.
Ada saat-saat di mana saya harus menjaga kekompakan dengan teman-teman. Saya sangat senang dengan kekompakan semua teman di sini walaupun ada beberapa yang tidak. Apalagi saat bulan Ramadhan yang kami manfaatkan untuk menjaga kebersamaan serta kekompakan.
Kami semua termasuk yang teman laki-laki tidur di Balai Pertemuan RT. Sebelum tidur kami pasti bermain terlebih dulu hingga mengantuk. Ada yang lempar-lemparan bantal, nyanyi bersama, memfoto-foto teman yang sudah tidur dll. Kalau ada yang sudah bangun, kami pasti saling membangunkan teman yang lain. Kami bangun langsung pulang untuk sahur. Sehabis sahur kami kumpul lagi untuk bermain, jalan-jalan, atau tidur lagi.
Setelah bulan Ramadhan dua bulan berlalu, saya dan teman-teman cewek yang lain mengikuti sanggar tari. Kami latihan menari di Lapangan RT hampir setiap harridan tarian kami juga sering dipentaskan. Pentas pertama kami di Lawang Sewu untuk memperingati hari ulang tahun kota Semarang. Kami pentas pada hari Minggu, satu hari sebelum saya mengikuti UASBN. Pentas pertama kami pun sukses.
Esok harinya saya mengikuti UASBN. UASBN hari pertama hingga ketiga pun berjalan lancardan saya bias mengerjakan semua mata pelajaran dengan jujur. Karena saya yakin bahwa kejujuran merupakan kunci mencapai kesuksesan.
Beberapa minggu kemudian hasil UASBN diumumkan. Alhamdulillah saya lulus dengan nilai yang lumayan. Guru saya saat di Kelas Menyebutkan semua nilai.
“ Riris, Bahasa Indonesia 8.40 ; Matematika 9.25 ; IPA 8.75. jumlahnya 26.40.” sebut Guruku
“ Alhamdulillah, beneran tu Lin ?” tanyaku ke Sahabat
“ Benar itu Ris, kamu hebat. Aku aja cuma 24.45.” jawab Lina
“ Lina, nilai berapa aja itu harus kita syukuri.” Kataku
“ Iya Ris, Alhamdulillah.” Sahut Lina
Lina itu seorang sahabatku saat di Kelas VI SD. Sesuatu apa saja kami selalu jalani bersama-sama dengan canda tawa, tanpa beban. Saya bersahabat dengan Lina tidak pernah marahan ataupun musuhan karena kami tahu itu tidak baik. Kami saling menjaga hati. Kami tidak pernah main rahasia-rahasiaan dan selalu terbuka satu sama lain. Jika ada masalah kami selalu jujur dan menyelesaikan masalah itu bersama.
Liburan kenaikan kelas pun tiba. Saya dengan teman-teman nari melanjutkan pentas yang kedua di Taman Budaya Raden Saleh atau yang sering disingkat TBRS. Pentas kami berlangsung pada malam hari. Alhamdulillah pentas kami yang kedua berjalan lancar. Selain itu liburan ini saya gunakan untuk mendaftar sekolah.
Saat sudah ada pendaftaran, saya mendaftar ke SMP 9 sebagai pilihan pertama dan SMP 15 sebagai pilihan kedua. Setelah melewati beberapa proses yang rumit, akhirnya saya dapat diterima di SMP 9. Setelah itu saya melanjutkan pentas tari yang ketiga.
Pentas ketiga kami di Pasadena. Sewaktu satu hari sebelum saya masuk sekolah pertama kali di SMP 9. Itu pun juga berjalan lancar. Pentas yang ketiga menjadi pentas terakhir kami. Karena setelah itu kami tidak mengikuti sanggar tari lagi. Kemungkinan ada suatu hal yang tidak kami ketahui tetapi, kami tidak memikirkan itu.
Saat di kelas VII saya sangat senang karena mempunyai banyak teman dan sahabat baru. Hari-hari saya di Kelas VII diselimuti kebahagiaan karena semua teman yang sangat baik dan kompak. Tidak terasa saat-saat di Kelas VII sudah terlewat. Banyak sekali penyesalan yang terjadi saat saya di kelas VII. Karena kelasnya di acak kembali jadi banyak yang tidak satu kelas lagi.
Saat liburan kenaikan kelas saya dan semua teman satu RT pergi tamasya ke Siwarak. Disana kami berenang disela-sela canda tawa. Laki perempuan saling bersenda gurau untuk menambah semangat saat bermain di kolam renang. Peristiwa liburan seperti itu sering sekali terjadi tiap liburan sekolah. Walaupun terkadang tempatnya tidak selalu sama.
Saya naik kelas VIII dan Rima lulus SD. Kebetulan Rima mendaftar dan dapat diterima di SMP 9. Saya dan Rima pun sekolah di tempat yang sama. Kami menjadi kakak dan adik kelas karena saya kelas VIII dan Rima kelas VII. Di sini lah puncak persahabatan kami. Persahabatan kami menjadi lebih erat dari yang sebelumnya. Karena kami kalau pulang bersama dan selain itu kami jadi lebih sering melakukan segala sesuatu bersama. Jika sedang di jalan, kami sering sekali cerita-cerita sesuatu yang menarik ataupun tidak menarik. Kami pun juga senang saling curhat-curhatan. Terkadang yang curhat Rima dan kadang saya. Sesuatu yang kami curhatkan sering kali sebuah rahasia besar yang harus dijaga dan tidak boleh ada seorang pun yang mengetahuinya.
Saat saya kelas VIII ini tidak seperti yang dulu. Dahulu sering sekali kalau saya curhat sama Rima esok harinya atau selang beberapa hari pasti curhatan saya terbongkar. Namun, saat saya kelas VIII kami saling menutup dan menjaga rahasia-rahasia itu.
Sering kali saya curhat ke Rima tentang orang yang saya suka, tidak suka dan semua yang merupakan suatu rahasia. Rima sering sekali curhat tentang orang yang dia suka, sahabatnya, dll. Kami menjaga semua rahasia itu dengan baik.
Di kelas VIII saya pun juga mempunyai banyak sahabat namanya Lidia, Inaya, Lista, Aulia, Nani. Mereka adalah sahabat yang sangat baik dan care sama saya. Saat di kelas kami sering cerita-cerita juga curhat-curhatan. Sering sekali kalau ada tugas atau PR kami selalu berdiskusi bersama. Saat study tour kami juga memilih untuk menjadi satu kelompok. Kami tidak pernah saling membohongi satu sama lain dan selalu terusterang jika ada masalah.
Pernah suatu ketika saya marahan dengan Lista atau Lidia tetapi, itu tidak bias bertahan lama. Pasti kami tiba-tiba main bareng atau bersenda gurau bersama lagi. Apalagi saya dengan Lista. Kami kalau sedang cerita-cerita pasti terlalu asyik dan sering sekali tentang orang yang kami suka. Saya dan sahabat-sahabat selalu saling bersaing untuk memperebutkan ranking di kelas. Kami biasanya mendapatkan ranking sepuluh besar. Biasanya yang salib-menyalib ranking itu saya dengan Nani, Lidia dengan Inaya. Walaupun saling bersaing, kami tidak pernah saling pelit ilmu dan ika ada teman yang kurang bisa pasti saling membantu. Sering kali kami selalu saling mencocokkan sesuatu yang dikerjakan. Saya sangat senang tetapi, semuanya tidak terasa kami pun berpisah. Kenaikan kelas pun tiba dan saat kelas IX nya kami beda kelas kecuali saya, Lidia, dan Inaya.Karena kelas kami kembali seperti saat kelas VII.
Saat saya sudah kelas IX dan Rima kelas VIII persahabatan kami melemah. Saat itu kami jadi sering tidak bersama karena Rima berubah. Banyak sekali perubahan pada dirinya. Sering sekali dia nyuekin dan tidak ngajak main saya lagi. Kami pun hampir seperti orang yang sedang marahan padahal tidak. Perasaan saya mengatakan bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Rima. Pernah suatu ketika Hendri temannya orang yang pernah saya suka bilang ke saya.
“ Eh Ris, kamu suka sama Nando kan ?” kata Hendri
“ Ih, PD mu tu lho.” Jawabku
“ Iya yo, ada buktinya lho!” seru Hendri
“ gak yo, sekarang buktinya apa ?” tanyaku
“ Yang penting ada.” Jawab Hendri
Begitulah yang dibicarakan Hendri kepada saya. Perasaan saya mengatakan bahwa ada yang sudah memberitahukan tentang itu ke Hendri dan itu kemungkinan Rima. Esok harinya saya mengirim sms ke Hendri menanyakan tentang buktinya tetapi, sms tidak dia balas. Saat saya pulang sekolah bersama dengan Rima. Saya menceritakan kepadanya kalau Hendri berkata seperti itu ke saya dan saya juga sudah sms Hendri. Rima pun langsung salah tingkah dan dia seperti kebingungan mau menjawab apa. Dugaan saya semakin kuat bahwa itu semua perbuatan Rima.
Saya mencari tahu tentang semua yang sedang terjadi. Sore harinya saat sedang ada tadarusan di Mushola, saya mendengar Rima bicara sesuatu ke Hendri. Ternyata yang mereka bicarakan adalah Rima menyuruh Hendri untuk tidak memberi tahu saya kalau itu semua perbuatan Rima. Akhirnya sudah terbukti bahwa yang selama ini sering membongkar-bongkar rahasia saya ternyata Rima. Selain itu dia juga yang membohongi saya tentang surat cinta tiga tahun lalu. Surat cinta itu yang merekayasa adalah Rima dan Yani. Semua dugaan perasaan saya itu sudah terungkap dan benar adanya. Sejak saat itu saya kembali musuhan dengan Rima karena dia yang memulai.
Di Rumah saya sering sekali mendengar tentang ejekan mereka di depan rumah saya. Perasaan saya pun kembali mengatakan bahwa ejekan mereka itu untuk saya. Saya pun bertanya pada Dhania tentang ejekan itu.
“ Eh, yang sering dikatakan Rima di depan rumahku ndak buat aku ? “ tanyaku heran
“ Bukan kok mbak.” Jawab Dhania
“ Tapi kok kalian kalau ngomong itu di depan Rumahku!” kataku
“ Bukan kok mbak, bukan keluargamu.” Kata Dhania mengelak
“ o ya udah makasih.” Ucapku
Beberapa hari kemudian teman adikku bilang ke saya kalau Rima dan teman yang lain mengejek saya. Jadi ternyata benar bahwa ejekan mereka itu untuk saya. Esoknya Rima sms saya yang isinya tentang yang salah menurut dia adalah saya saya. Sms Rima itu menurut saya sangat kurangajar. Karena dia sudah terbukti salah malah menjelek-jelekkan, mengata-ngatakan saya. Dalam smsnya dia juga mengatakan bahwa saya tidak punya harga diri. Dia juga mengatakan bahw saya itu over karena menurutnya semua yang ada didiriku itu aneh. Selain itu banyak lagi yang dia katakana tetapi, menurut saya ya sudahlah tidak apa-apa. Kalau memang itu sudah menjadi keputusannya biarlah dia sadar dengan sendirinya. Saya berharap semua yang sudah terjadi tidak terulang lagi. Semua itu saya ambil hikmahnya saja. Walaupun demikian tetaplah sebuah kebohongan itu salah. Semua kebohongan pasti akan terungkap bila sudah datang waktunya.

 

                                                THE END

Senin, 02 September 2013

hello, this is my first post !!!
i was a newcomer in blogger world
so, call me KIKA and let me join you here :))